Monday, June 09, 2008

Al-Zaytun Sumber Inspirasi


Bagian Pertama
Oleh : Ch Robin Manulang

Setiap kali mengunjungi Al-Zaytun, kami selalu menemukan inspirasi yang menjadi pencerahan dan guide to action untuk berbudaya toleransi dan perdamaian. Juga menjadi ilham dalam pengejawantahan demokrasi dan interdependensi dalam interaksi sosial dan pengungkapan dalam tulisan. Inspirasi (ilham) yang memberi jawaban, bagaimana agar setiap orang (penulis) melalui karyanya menjadi berguna bagi sesama dan garam bagi dunia serta rahmat bagi semesta alam.

Di tempat ini (Al-Zaytun) bertaburan cahaya butir-butir inspirasi yang memancar dari hasil karya orang-orang beriman (hamba Allah). Al-Zaytun dibangun dan dikelola oleh orang-orang beriman (Islam). Maka, bagi Anda yang ingin berguna bagi sesama dan rahmat bagi semesta alam, jika Anda kesulitan menemukan inspirasi di tempat lain, datanglah ke Ma'had (Kampus) Al¬-Zaytun. Kami mungkin dikira terlalu berpro¬mosi tentang lembaga pendidikan Is¬lam, Al-Zaytun, yang berlokasi di pelosok Desa Mekar Jaya, Gantar, Indramayu, Jawa Barat. Tetapi, izinkan kami mengemukakan panda¬ngan dan pengalaman, setiap kali berkunjung ke Al-Zaytun. Kami menyadari, setiap
orang tentu mempunyai pandangan dan menjalani pengalaman sendiri, yang mungkin berbeda dari orang lain. Bahkan bisa mungkin sisi pandang dan pengala¬man kami tidak selalu persis sama seperti dimaksudkan atau dipahamkan oleh Syaykh dan eksponen Al-Zaytun sendiri.

Sebelum lebih jauh bertutur perihal ca¬haya butir-butir inspirasi di Al-Zaytun, alangkah baik dipaparkan apa arti dan makna inspirasi yang kami maksudkan dalam konteks ini? Kamus Umum Bahasa Indonesia yang disusun oleh WJS Poerwadarminta (cetakan kelima, 1976), mengartikan inspirasi sebagai ilham; bisikan. Ilham berarti: (1) petunjuk yang datangnya dari Tuhan yang terbit di hati; (2) sesuatu yang menggerakkan hati untuk...

Pengertian inspirasi (inspiration) yang lebih lugs terdapat dalam World Book Dictionary (edisi 1978) yaitu: (1) the in¬fluence of thought and strong feelings on actions, especially on good actions; (2) any influence that arouses effort to do well; (3) an idea that is inspired; sudden brilliant idea; (4) a suggestion to an¬other; actor causing something to be told or written by another; (5) God's influence on the mind or soul of man; divine influ¬ence; (6) a breathing in; act of drawing air into the lungs; inhalation.

Sementara dalam bahasa Latin, perkataan inspirasi berasal dari dua kata yaitu in dan spiro yang secara harfiah berarti menghembuskan ke dalam. Arti yang hampir sama dalam bahasa Ibrani, kata inspirasi adalah neshama dan nismah yang berarti nafas. Dalam bahasa Arab kata inspirasi adalah fikrah berarti ide, pikiran atau pergerakan pikiran dalam otak.

Jadi, inspirasi (ilham, yang menggerak¬kan hati dan pikiran) secara intuisi bisa dimaknai semacam nafas, bisikan dan penglihatan yang amat tajam dan meng¬gerakkan (memengaruhi) hati dan pikiran seseorang (penulis) untuk berkemampuan berimajinasi atau mengembangkan perasaan dan pandangannya.

Inspirasi juga bermakna pencerahan (iluminasi) berupa petunjuk dari Tuhan yang terbit di hati dan pikiran sehingga meningkatkan kemampuan pikir, ide, gagasan, perasaan dan imajinasi sese¬orang. Kemudian secara dinamis, se-se¬orang (penulis) itu mampu mengem¬bangkan visi, prinsip dan kepribadian da¬lam memilih kata dan cars mengung¬kapkannya.

Sehingga pengungkapannya berman¬faat untuk menyatakan setiap perbuatan baik, dan pada waktunya menyatakan ke¬salahan, untuk memperbaiki kelakuan dan mendidik orang dalam kebenaran, pe¬nuh toleransi (interdependensi) dan cinta perdamaian. Hal mana seseorang yang di¬ilhami (terinspirasi) itu diperlengkapi un¬tuk setiap perbuatan baik, berguna bagi sesama dan rahmat bagi semesta alam.

Barangkali implementasi inspirasi dan prinsip dalam penulisan (pengungkapan kata, pernyataan dan berita) seperti ini bisa disebut sebagai jurnalisme rahmatan lil alamin dan/ataujurnalisme terang dan garam dunia. Berguna (menggarami) dan rahmat bagi semua, tanpa batas agama, ras, suku dan golongan.

Demikianlah pemaknaan inspirasi, yang cahaya dan butirannya kami temukan bertaburan di Al-Zaytun. Tentu saja, Al-Zaytun bukanlah satu-satunya tempat di mana kita bisa menemukan selaksa ilham (inspirasi). Di banyak tem¬pat yang cinta perdamaian, menghormati persamaan dan perbedaan dalam interak¬si yang interdependen, toleran, mencintai alam lingkungan, mencerahkan dan anti kekerasan serta taat, takut dan taqwa ke¬pada Sang Pencipta, Allah Yang Maha Ku¬asa, pastilah kita dengan mudah mem¬peroleh ilham (inspirasi) seperti dimaksud di atas.

Boleh dinikmati, di semua tempat yang cinta damai, mengembangkan budaya to¬leransi dan perdamaian, seperti halnya Al¬-Zaytun, tempat itu laksana gudang atau buku hidup (kamus) inspirasi baru. Tidak dengan maksud membandingkan apalagi mempersamakan, melainkan hanya untuk menginspirasikan, manakala seseorang membaca kitab suci (sesuai kepercaya¬annya) secara sungguh-sungguh, pastilah dia akan menemukan inspirasi baru. Su¬dah pun pernah dibaca berulang kali, se¬tiap kali dibaca lagi, akan melahirkan inspirasi baru.

Barang kali baik jugs dinikmati, sesuatu (tempat atau visi, ide dan karya) yang cin¬ta damai, setiap kali dikunjungi atau diba¬ca, dengan hati yang tulus dan pikiran yang jernih, Insya Allah jika Allah ber¬kehendak), di situ akan ditemukan ins¬pirasi baru (inspirasi seperti dimaksud di atas).

AI-Zaytun Sumber Inspirasi

Dalam tugas keseharian kami, sebagai wartawan, mengelola Website Tokoh Indonesia.Com - sebuah media online yang tengah dibangun menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia Online dan diterbitkan sejak tanggal 20 Mei 2002 bertepatan Hari Kebangkitan Nasional setiap hari kami menerima banyak surat, terutama melalui e-mail. Isi dan maksud surat-surat itu beragam, baik berupa sa¬ran, pendapat dan pertanyaan maupun kritik. Surat yang banyak dan beragam itu, bagi kami, juga merupakan sumber inspirasi yang sangat berharga.

Setiap surat itu, apa pun isi dan maksudnya, apalagi yang bersifat membangun, kami maknai sebagai darah baru untuk membangkitkan semangat kerja dan kreativitas. Banyak surat itu menjadi sumber inspirasi bagi setiap crew, terutama redaksi. Sehingga dalam rapat redaksi, diambil satu keputusan bahwa setiap crew, terutama redaksi, wajib membaca surat-surat itu setiap hari.

Kami menyambut dan merespon semua harapan, saran dan kritik dalam surat¬surat itu. Di antaranya, saran untuk me¬nampilkan sosok, biografi, tokoh terten¬tu. Salah satu tokoh yang disarankan agar biografi dan karya-karyanya ditampilkan dalam website itu adalah Syaykh AS Panji Gumilang, pimpinan Ma'had Al-Zaytun. Dia disebut sebagai seorang tokoh feno¬menal berkaliber dunia. Kendati ada juga surat yang menyampaikan pendapat berbeda. Ada yang mengaitkannya dengan NII (Negara Islam Indonesia) dan lain se¬bagainya. Terjadi silang pendapat dalam surat elektronik (e-mail) terbuka yang kami terima kala itu.

Sebelumnya, memang kami sudah per¬nah mendengar kontroversi tentang Syaykh Al-Zaytun ini. Tetapi, saking ba¬nyaknya orang berbicara tentang keburu¬kan orang lain, bahkan menghujat dan menghakimi orang lain, terutama sejak awal reformasi 1998, sebagai manusia bia¬sa juga sebagai seorang jurnalis, kami menjadi memilih lebih tertarik pada hal hal yang banyak menyatakan kebaikan o-rang lain, tidak hanya menyatakan kesa¬lahannya, apalagi bila kesalahan itu tidak (belum tentu) pernah dilakukannya atau sudah sangat lama atau hanya perbedaan pemikiran, faham dan pandangan.

Lagi pula, bagi kami, untuk menyong¬song ke depan dan menjemput masa depan, tidak perlu selalu berorientasi ke be¬lakang. Kalaupun ada kalanya perlu me¬noleh ke belakang hanya untuk mengasah kebajikan yang berorientasi kekinian dan masa depan yang lebih baik. Bukan malah menafikan kekinian dan masa depan hanya karena masa lalu. Biarlah masa lalu sebagai bagian dari sejarah yang mem¬bimbing setiap orang lebih memiliki kebajikan dan kebijakan menjalani hidup kekinian dan menjemput masa depannya.

Boleh saja, di mata jurnalis lain atau orang lain, hal itu telah menjadi kelema¬han kami dalam menyikapi perkembang¬an baru (pasca reformasi). Namun, bagi kami, biarlah kelemahan itu menjadi ke¬kuatan. Kami ingin mengembangkan jur¬nalisme yang bermanfaat untuk me¬nyatakan perbuatan baik, dan pada sa¬atnya juga menyatakan kesalahan untuk memperbaiki kelakuan serta mengajar dan mendidik orang dalam kebenaran de¬mi masa depan yang lebih baik. Dengan demikian para jurnalis mutlak diper¬lengkapi untuk setiap perbuatan baik se¬cara tulus, bijak dan interdependen, baik itu tatkala menyatakan kesalahan.

Maka bagi kami, sesungguhnya kala itu, surat yang menyatakan bahwa Syaykh AS Panji Gumilang sebagai seorang tokoh fe¬nomenal berkaliber dunia, telah cukup kuat mendorong kami untuk segera bisa menulis kiprah tokoh ini di website Tokoh Indonesia dan Majalah Tokoh Indonesia.

Apalagi, salah satu surat itu dari seseorang yang bernama Ryutaro berbunyi: "Saya harap Tokoh Indonesia mengupasnya dengan suci." Pernyataan dan harapan Ryutaro ini juga ditimpali pembaca (penulis surat) lainnya, tatkala kami dipersalahkan para pembaca lainnya lantaran selalu menonjolkan perbuatan baik orang lain (si tokoh): "Hanya orang yang berhati mulia yang mampu mengapresiasi kebaikan orang lain, seperti yang dilakukan Tokoh Indonesia." Memang, salah satu kebiasaan buruk manusia (animal) adalah gemar membi¬carakan (gossip) kesalahan, kelemahan dan keburukan orang lain dan malah eng¬gan membicarakan kebaikan, kelebihan dan kebenaran orang lain.

Ya, memang itu juga menjadi misteri manusia yang semuanya memiliki sisi baik dan buruk (jahat). Yang membedakannya adalah ke¬mauan dan kemampuan seseorang me¬ngedepankan sisi baiknya dan menekan sisi jahatnya. Maka ajaran agama menjadi amat penting untuk membimbing manusia ke arah sisi baiknya, berhati mulia.

Pernyataan berhati mulia ini sungguh suci untuk menginspirasi (mengilhami) kami untuk segera mengirim surat via pos permohonan wawancara kepada Syaykh Panji Gumilang. Dan, berselang kurang dari sepekan, kami jugs pantas berbesar hati dan berbahagia, karena tokoh dimaksud merespon sangat terbuka Surat permohonan wawancara kami.

Kamis, 19 Februari 2004, adalah hari pertama kami berkesempatan menginjak¬kan kaki di Al-Zaytun dan wawancara dengan Syaykh Panji Gumilang. Berangkat pagi subuh dari Jakarta, kami disertai Sdr Mangatur Paniroy dan Marjuka Situmorang, menempuh perjalanan selama kurang lebih empatjam menuju Desa Gantar, Haurgeulis, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat.

Kala itu, sama seperti kini, jalanan dari Haurgeulis menuju Al-Zaytun harus dilalui dengan kecepatan lambat karena berlubang-lubang. Entah kenapa Pemkab Indramayu atau Pemprov Jawa Barat membiarkan jalan ini sering rusak. Ketika kembali dari A]-Zaytun malam harinya melintasi jalan berlubang ini, kami kurang beruntung. Ban depan mobil kami bocor terkelupas batu tajam.

Jalan ini pernah dipoles tatkala Presiden BJ Habibie melintasinya untuk me¬resmikan Ma'had Al-Zaytun, 27 Agustus 1999• Habibie dan rombongan datang de¬ngan naik Kereta Api Argo Bromo dari Stasiun Gambir sampai ke Stasiun Haur¬geulis. Presiden dan rombongan melan¬jutkan perjalanan menuju kompleks Al-Zaytun dengan naik mobil. Maka, bebe¬rapa hari sebelum Presiden Habibie datang, Pomprov Jawa Barat buru-buru memoles jalan itu. Setelah itu, hanya ditambal Sulam, sehingga jalanan sempit itu sering berlubang-lubang.

Barangkali, ini kebiasaan yang kurang baik untuk dibiarkan. Sebaiknya, dilintasi atau tidak oleh presiden, jalan seharusnya diperbaiki dan jangan dibiarkan rusak. Apalagi di kawasan itu ada lembaga pendidikan terpadu berskala global yang didirikan dan diasuh oleh Yayasan Pesantren Indonesia. Barangkali, peme¬rintah belum celik memandang kehadiran lembaga pendidikan ini sebagai investasi dan kekuatan barn untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang berdaya saing tinggi yang amat dibutuhkan bangsa ini demi masa depan yang lebih baik.

Tinjau Setiap Sudut

Setelah kami tiba di kompleks Al¬Zaytun, terlihat beberapa pos satpam berjejer setiap beberapa ratus meter untuk memantau dan menjaga keamanan dalam kampus. Penjagaannya cukup rapi dan terkoordinir. Setiap pengunjung baik un¬dangan, tamu atau pers selalu didata dan dilayani sebaik-baiknya. Petugas menun¬tun kami untuk melapor ke pos peneri¬maan tamu. Bagi kami, layanan di pos ter¬depan ini, mencerminkan adanya penega¬kan dan pemeliharaan disiplin demi ketertiban dan keamanan.

Dalam benak kami langsung terinspi¬rasi, bahwa Islam memang mengajarkan disiplin dengan sangat baik dan patut diteladani. Islam mewajibkan sholat lima waktu dengan disiplin yang ketat. Maka, mau belajar disiplin, silakan belajar dari Islam. Soal ada umat Islam yang kurang disiplin, itu kesalahan orangnya yang ku¬rang bergaya hidup Islami.

Sementara perihal kebebasan, bisa belajar dari Kristen (Kamu adalah orang-¬orang merdeka, tetapi jangan salah gunakan kemerdekaan itu). Bukan berarti Islam tidak mengajarkan kebebasan atau sebaliknya Kristen tidak mengajarkan disiplin. Hanya sentuhan dan penekanan¬nya ada kekhasannya masing-masing. Dalam pemahaman (inspirasi) kami, Is¬lam mengajarkan kebebasan dalam kori¬dor kedisiplinan, sementara Kristen mengajarkan kedisiplinan dalam koridor kebebasan.

Belum lagi inspirasi itu berlalu, dalam sorotan bola mata tertangkap di setiap pintu masuk kampus terpancang gapura dengan serangkaian kata: Ma'had Al¬-Zaytun Pusat Pendidikan dan Pengemba¬ngan Budaya Toleransi Berta Pengemba¬ngan Budaya Perdamaian. Ketika mem¬baca tulisan ini, kami tertegun seraya me¬natap dan membacanya dengan cermat. Sejenak, teringat desas-desus negatif tentang pondok pesantren ini, seolah-olah sebuah lembaga Islam garis keras (meminjam istilah yang sering kali digunakan orang lain). Bahkan ada sebuah majalah menulis dugaan bahwa Osama bin Laden pernah bersembunyi di kompleks ini, selain menyebutnya sebagai markas NII.

Tapi bagi kami, serangkaian kata di beberapa gapura itu menghadirkan inspirasi tentang kehidupan yang penuh toleransi dan damai. Kata-kata itu adalah ilham dari Allah. Dalam pikiran kami segera melintas kata (inspirasi) bahwa o¬rang-orang di sini pembawa damai. Ins¬pirasi itu membawa kami pads bunyi Firman Allah dalam Alkitab (Bibel): Berba¬hagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak (hamba) Allah.

Segera muncul sebuah keyakinan bah¬wa pondok pesantren ini bertujuan sangat mulia, pembawa damai. Tidak mudah menjadikan motto toleransi dan perda¬maian ini hanya sebagai tameng menutupi wajah lain yang tidak toleran dan tidak da¬mai. Sebelumnya, pernah kami dengar da¬ri seorang kiyai pimpinan ormas Islam yang menduga Al-Zaytun punya agenda tersembunyi (hidden agenda). Walaupun tidak dijelaskan hidden agenda seperti apa.

Sebutir keraguan yang sempat bercokol dalam hati bahwa apa yang didesas-de¬suskan tentang Ponpes ini, mulai tersing¬kir. Apalagi, kami menganut prinsip mempercayai lebih dulu jauh lebih baik daripada mencurigai lebih dulu. Barangkali prinsip ini juga membuat kami tidak cocok menjadi polisi atau jaksa. Atau menjadi seorang jurnalis yang selalu mencurigai.

Hati pun makin tenteram setelah me¬masuki kompleks menuju wisma tamu Al-Ishlah yang cukup megah. Bangunan lima lantai ini berada di sebelah selatan Masjid Al-Hayat. Wisma seluas 7.600 m2 dengan 150 kamar tidur itu dilengkapi dengan fasilitas pendukung seperti coffee shop, meeting room, dan pendukung lainnya. Terasa suasana peradaban maju yang amat bersahabat dan damai, tidak ada kesan eksklusif (tertutup).

Suasana wisma tamu yang dibangun i Juli 1999 dan selesai 27 Oktober 2001 ini jauh lebih baik dari suasana hotel-hotel berbintang di Jakarta. Sementara sarana¬nya sama dengan hotel berbintang, mulai dari lobi hotel, coffee shop, meeting room sampai restoran didisain sedemikian rupa sehingga sungguh menunjukkan kesan modern yang tertata apik. Petugas pene¬rima tamu dan pelayan restoran pun kom¬pak menggunakan seragam yang menyi¬ratkan kesungguhan dan profesionalisme dalam melakukan tugasnya.

Suasana hati yang teduh dan bersaha¬bat amat terasa, saat berpapasan dengan setiap orang dalam kompleks pendidikan terpadu ini. Tidak ada tampang sangar dan tatapan mata tajam beringas. Para santri prig (rizal) berpakaian rapih dilengkapi dasi bahkan jas, layaknya sekolah umum. Tidak ada yang pakai sa¬rung. Begitu pula santri putri (nisa) ber¬pakaian seragam rapih dan sopan dileng¬kapi kerudung penutup rambut yang cukup modis.

Pertama kali, kami disambut Uztad Ab¬dul Halim, yang belakangan kami ketahui menyandang jabatan sebagai Sekretaris Yayasan Pesantren Indonesia. Rasanya, kami cepat akrab, seperti sudah lama ber¬kenalan. Padahal, itulah pertama kali kami bertemu muka, apalagi bereakap-cakap. Penampilannya seperti eksekutif lembaga modern global. Pakai dasi dengan jaket hitam yang maskulin. Dia ti¬dak pakai sorban dan berjanggut panjang. Bicaranya lugas, layaknya seorang eksekutif perusahaan multinasional.

Seraya beristirahat sejenak di restoran Wisma Al-Islah, minum teh tarik ciri khas AI-Zaytun ditemani Uztad Abdul Halim, kami menjelaskan maksud kehadirankami untuk wawancara dengan Syaykh Panji Gumilang. Abdul Halim juga menje¬laskan secara singkat tentang keberadaan Al-Zaytun. Lalu, kami ditawarkan untuk meninjau lebih dahulu `setiap sudut' Ma'had Al-Zaytun, sebelum wawancara.

Tentu saja kami sangat senang bisa me¬ninjau secara langsung semua sudut lembaga pendidikan ini. Dalam hati terinspirasi, lembaga pendidikan ini sa¬ngat terbuka. Terbuka (transparan) dalam kedisiplinan tinggi. Tentu saja, setiap kali kita masuk ke rumah orang haruslah sepengetahuan dan dipersilahkan lebih dahulu oleh pemilik rumah. Registrasi tamu di pintu masuk tadi suatu bentuk kesopanan tamu yang layak dipatuhi seorang tamu yang beradab. Sesudah itu, kita diperlakukan sebagai sahabat yang seperti berada di rumah sendiri.

Semua sudut kami tinjau. Mulai dari ruang kelas, basement Masjid Rahmatan Lil Alamin yang masih dalam tahap pem¬bangunan, laboratorium, peternakan sampai asrama putri pun kami masuki. Basement Masjid Rahmatan Lil Alamin itu pernah diberitakan orang sebagai bun¬ker, ruang persembunyian bawah tanah. "Mana bunkernya?" kami bertanya. Abdul Halim menjelaskan: "Iya ini, basement yang nanti sebagian akan digunakan sebagai ruang kantor."

Setelah itu, pada malam harinya, sekitar pukul 20.00 sampai 23.30 WIB, kami wa¬wancara dengan Syaykh Panji Gumilang. Lengkaplah sudah penjelasan yang kami peroleh perihal keberadaan Al-Zaytun. Hampir 14 jam secara marathon dan in¬tensif, mulai pukul 10.00 pagi sampai 23.30, kami meninjau dan menerima penjelasan. Rasanya keingin-tahuan kami terlayani dengan terbuka dan sempurna.

Sungguh, di situ kami menyaksikan sebuah wujud nyata konsep pendidikan terpadu yang bermotto: Pusat Pendidikan dan Pengembangan Budaya Toleransi dan Perdamaian. Kampus ini disetting men¬jadi laboratorium toleransi dan perda¬maian. Tidak hanya dalam konsep teori dan penelitian, melainkan benar-benar mengimplementasikan dan memproduksi budaya toleransi dan perdamaian tersebut dalam gaya hidup keseharian.

Selain itu, kampus ini juga benar-benar menerapkan konsep pendidikan terpadu secara mandiri yang menempatkan pen¬didikan sebagai gula dan ekonomi jadi se¬mutnya. Setelah menyaksikannya, tidak mudah bagi kami menyampaikan kata yang bisa menggambarkan keberadaan pondok pesantren ini. Sungguh luar biasa!

Tak berlebihan bila kami menyebutnya sebagai Ponpes (Kampus) Peradaban Berskala Dunia. Mengenai tokoh pendirinya, beliau adalah Pelopor Pendidikan Terpadu dan Pembawa Damai.

Namun, penyajian kami, pastilah masih sangat jauh dari sempurna, untuk menggambarkan apa, siapa dan bagai¬mana Ma'had Al-Zaytun dan tokoh pen¬diri dan pemimpinnya itu. Setelah kami memublikasikannya di website Tokoh Indonesia.Com (Ensiklopedi Tokoh Indo¬nesia), kami pun menerbitkan di Majalah Tokoh Indonesia Edisi 8.

Dan, Setelah lebih empat tahun, serta se¬sudah beberapa kali berkunjung ke Al¬-Zaytun, tatkala kami membaca ulang apa yang kami tulis di Majalah Tokoh Indone¬sia Edisi 8 tersebut, Sungguh cukup mem¬beri gambaran singkat secara menyeluruh tentang keberadaan Al-Zaytun. Inilah Al¬-Zaytun yang sesungguhnya (setidaknya da¬lam pandangan kami), tidak ada yang ter¬sembunyi. Kami menyadari kata kuncinya adalah karena di situ kami menemukan ins¬pirasi (ilham secara intuisi ataupun atas pe¬tunjuk Illahi) yang mencerahkan.

Sudah lebih empat tahun kami mengenal dan berulangkali mengunjungi serta ber¬dialog dengan Syaykh dan para eksponen¬nya, juga membaca bulletin harian inter¬nalnya, Al-Zaytun yang kami kenal pada awal, itu pulalah yang kami kenal hari ini. Al-Zaytun yang mengajarkan disiplin kuat, mengajarkan kebebasan berpikir, toleransi (interdependensi), demokrasi dan perda¬maian serta cinta Republik Indonesia. Me¬masuki area Al-Zaytun, kita benar-benar masuk dalam zona perdamaian dan demokrasi (zone of peace and democracy) dan go home!

Sumber : Majalah Berita Indonesia Edisi 57-2008

Bacaan Selanjutnya!

ASSA Wujudkan Nazar Presiden


Tour Sepeda Jawa-Madura, 26 Mei - 11 Juni 2008

Assosiasi Sepeda Sport AI-Zaytun [ASSA] mewujudkan nazar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan menyelenggarakan perjalanan sepeda sehat keliling Jawa-Madura menempuh jarak sekira 2000 kilo meter, selama 17 hari mulai tanggal 16 Mei sampai 1 1 Juni 2008.

Tour sepeda keliling Jawa-Ma¬dura ini sesuai nazar Presiden SBY diselenggarakan dalam rangka seabad Hari Kebangkitan Nasional. Juga memeringati hari lahirnya Pancasila (Nilai-nilai Dasar Negara Kesatuan RI), Hari Lingkungan Hidup Internasional dan Hari Anti Narkoba Internasional, Serta hari lahirnya Yayasan Pesantren Indonesia.

Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyo¬no berjanji (bernadzar) akan menjadi patron gerakan sepeda nasional tahun 2008. Sehubungan rencana gerakan bersepeda keliling Indonesia, Presiden SBY berjanji: "Saya siap menjadi patron gerakan ini. Kita lakukan nanti, bertepatan dengan perayaan satu abad kebangkitan nasional Indonesia."

Janji itu dikemukakan Presiden sebagai wujud nyata partisipasi Indonesia untuk mengurangi emisi. Hal itu dikemukakan Presiden saat bertatap muka dengan ke¬lompok Bicycle for Earth Goes to Bali, terdiri dari para pemuda pencinta ling¬kungan di halaman Kantor Gubernur Bali, Selasa, 4 Desember 2007.

Kala itu, Presiden SBY menegaskan, menangani isu global warming bukan sekadar wacana, bukan sekadar menelur¬kan kebijakan politik, bukan hanya seka¬dar komitmen kosong di belakang layar, melainkan aksi nyata. (Media Indonesia, 5 Desember 2007).

Saat Presiden SBY mengucapkan hal itu, Assosiasi Sepeda Sport Al-Zaytun (ASSA) telah merencanakan bersepeda keliling Jawa- Madura. "Desember itu kita sudah latihan, pada waktu presiden bicara, dan sudah mempersiapkan untuk Jawa-Madura. Kita senang mendengar ungkapan presiden itu. Kita pikir juga dilaksanakan," ungkap Syaykh Panji Gumilang.

Saat itu, ASSA telah melakukan latihan secara intensif. Selain intensif latihan dengan melakukan try-out di sekitar Indramayu, Jakarta dan Banten, ASSA pun terus memantapkan segala hal yang berhubungan dengan rencana perjalanan bersepeda keliling Jawa-Madura sepanjang 1889 km tersebut.

Termasuk mengurus segala perizinan yang diperlukan. Di antaranya, Surat Izin dari Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia. Mabes Polri menge¬luarkan izin No.Po: SI/YANMIN/236/IV/ 2008/BANTELKAM tertanggal 3o April 2008. Surat Izin itu diberikan kepada Yayasan Pesantren Indonesia Ma'had Al-Zaytun, dengan penanggung jawab Syaykh Al-Zaytun AS Panji Gumilang, un¬tuk 'Perjalanan Sepeda Sehat Keliling Pulau Jawa dan Madura, dari tanggal 26 Mei s/d 11 Juni 2008. Kegiatan itu dila¬kukan dalam rangka memperingati hari Kebangkitan Nasional.

Surat izin dari Mabes Polri itu ditem¬buskan kepada Menpora, Kabaintelkam, Dir C dan D Baintelkam, Dir Lantas Babinkam Polri, Kapolda Jabar, Kapolda Jateng, Kapolda DI Yogyakarta, Kapolda Jatim dan Ketua ISSI Pusat. Selain itu, Mabes Polri (Kabinkam Polri) juga menindaklanjuti Surat izin tersebut de¬ngan mengirimkan Surat Telegram (No.Pol: ST/90/IV/2008) kepada Kapolda Jabar, Kapolda Jateng, Kapolda DI Yogyakarta, Kapolda Jatim Up. Dirlantas.

Selain memperoleh izin dari Mabes Polri, ASSA juga memperoleh rekomen¬dasi dari ISSI (Ikatan Sepeda Sport Indo¬nesia). Juga dilakukan kordinasi dengan beberapa Pemda dan Polda setempat. Sementara, Panitia Kebangkitan Nasional Pusat pun diundang. Namun sampai be¬rita ini dikonfirmasi kepada ASSA belum ada jawaban dari Panitia Pusat Perayaan Hari Kebangkitan Nasional. Termasuk ju¬ga belum diperoleh kabar tentang pewujudan nazar Presiden tentang ren¬cana gerakan bersepeda keliling Indone¬sia dalam rangka memperingati 100 tahun Harkitnas tersebut.

Berhubung sampai sekarang tidak ada ceritanya, maka Al-Zaytun yang jalankan (wujudkan) nazar tersebut. "Kalau Presiden tidak melaksanakan, kita yang melaksanakan, berarti selesai, tidak dapat dosa," kata Syaykh Al-Zaytun AS Panji Gumilang. Menurutnya, ini menghindar¬kan dosa dari pemimpin-pemimpin yang banyak bicara tapi tidak dilaksanakan. Nanti kalau nggak begitu, dituntut oleh malaikat. "Eh itu, presiden itu yang ngomong, rakyatnya pun diam saja."

Syaykh Al-Zaytun menjelaskan, hal ini dalam bahasa Fiqih Islam namanya fardhu kifayah, artinya kewajiban yang diucapkan oleh seorang presiden (pemimpin), tapi presidennya lupa, rakyatnya ingat, berarti jalan sudah bebas. "Sebab, nanti kalau pemimpin negara kena karena nazarnya itu, berarti rakyat juga kena. Nah, kita mewakili yang lupa itu," jelas Syaykh Panji Gumilang.

Jadi Al-Zaytun menjalankan fardhu kifayah, ucapan, nazar dan fardhu kifayah-nya Presiden. Sebab, menurut Syaykh Panji Gumilang, ucapan seorang pemimpin, bila tidak dilaksanakan bisa mengkhawatirkan. "Ucapan Presiden di Bali itu sesungguhnya nazar. Fardhu kifayah hukumnya. Namun kalau tidak dilaksanakan akibatnya kepada semua. Maka Al-Zaytun mengambil nazar pre¬siden," kata Syaykh.

"Kita yang memenuhi nazar presiden itu. Paling tidak pemenuhan kualitasnya, cita-citanya, pemikirannya walaupun nasibnya tidak," katanya. Syaykh mene¬gaskan, nazar pemimpin-pemimpinlah yang kita laksanakan. Sebab kalau nazar tidak dilaksanakan, kena denda. "Denda itu dilaksanakan oleh malaikat, kan bahaya," kata Syaykh Al-Zaytun.

Semua Persiapan Rampung

Segala persiapan dalam rangka perja¬lanan bersepeda keliling Jawa-Madura tersebut sudah rampung. Mulai dari agenda perjalanan, rute dan tempat istirahat, keamanan, logistik (konsumsi) dan akomodasi, pelayanan kesehatan, laundry, bahkan dapur juga telah disiap¬kan.

Pesertanya 280-an orang ditambah pendukung teknis (teknisi Sepeda, teknisi kendaraan besar dan dokter dan lain-lain sekitar 6o orang sehingga berjumlah 340 orang. Semua peserta dan pendukung dibekali tanda pengenal dan kostum.

Perjalanan akan menempuh hampir 2000 km, tentu memerlukan nyali besar. Menanggapi hal ini, Syaykh Al-Zaytun mengatakan 2000 km itu belum panjang, kita hanya jalan. Daendels, justru mem¬buat jalan. Lha kita tinggal jalan dan su¬dah banyak fasilitas. Tahun 1818 Daendels membuat jalan tidak pernah mengeluh.

Tapi banyak korban? "Jangan bicara korban, kalau bicara koran, tidak ada di dunia ini tanpa pengorbanan. Kan semua mengatakan, lewat mana? Lewat jalan Daendels. Lha, kok korban dihitung? Jesus mengorbankan dirinya untuk penebusan dosa. Kalau tidak ada pengor¬banan, tak ada itu jalan Daendels. Setelah itu, disambut dengan meledaknya Kra¬katau. Setelah Daendels selesai. Apa itu artinya? Bagus, kan begitu. Baru, lahir ula¬ma besar di Banten, namanya Nawawi Albantani. Nah, itu ada rentetannya se¬mua itu. Ini kita sedikit-sedikit, banyak korban, banyak korban. Sekarang orang tidak ingat lagi apa korbannya. Yang ingat, jalan Daendels rusak berat. Gitu toh? Makan korban juga kan?"

Jadi harus berani ambil risiko ya? "Bukan berani ambil risiko. Perjuangan itu berisiko. Jangan sekonyong-konyong berani ambil risiko. Risiko jangan ditan¬tang. Tapi setiap pergerakan, perjuangan, pembangunan, ada risiko. Jangan pernah ditantang risiko itu. Menantang risiko itu, sombong. Daendels juga tidak menantang risiko," jawab Syaykh.

Dia mengajak, ayo berjuang saja. "Jadi risiko itu jangan dihitung di depan. Nanti tidak risiko pun dibabat. Nah, ini nand bisa jadi risiko, dibabat. Padahal bukan risiko," katanya. Menurutnya, Daendels itu, tidak menghitung risiko. Jalan terns. "Kalau dihitung, bukan risiko, anggaran belanja namanya kan?"

Setelah menjelajah Jawa-Madura, ASSA juga berencana bersepeda keliling Nanggroe Aceh Darussalam. Dari Karang Baru terus ke Banda Aceh, atau masuk Banda Aceh dulu terus baru masuk ke Singkil. Dari Singkil naik bis ke Medan, dari Medan naik bis lagi ke Karang Baru. Karang Baru naik lagi ke Banda Aceh. Jadi izinnya cuma satu. Polda, kalau kita lewat Medan harus dua izinnya, kalau sudah dua tidak diizinkan lagi nanti dengan Polda Medan atau Polda Aceh. (Sumber : Majalah Berita Indonesia Edisi 57 -2008)

Bacaan Selanjutnya!

Thursday, February 14, 2008

Perjuangkan Keeratan Bangsa

Perayaan 1 Muharam 1429H di Al-Zaytun

Bangsa Indonesia yang bhinneka dipastikan akan tetap tunggal ika karena dipersatukan oleh Pancasila. Pidato 1 Muharam 1 429 H, Syaykh AI-Zaytun AS Panji Gumilang secara tegas menyebutkan, kepatuhan kita menjunjung tinggi Pancasila akan mematahkan mitos atau ramalan para peramal, yang menyebutkan Bangsa Indonesia akan bubar tahun 2015 seturut mitos siklus 70 tahunan. Para bapak pendiri bangsa dengan kearifan yang dimiliki mewariskan Pancasila sebagai satu-satunya pemersatu semua anak bangsa, demi menjadikan Indonesia yang kuat. Siapapun warga bangsa, apapun agama, suku, ras, etnis, Bahasa, budaya, asal-usul, atau keyakinan dan kepercayaannya bebas memiliki tujuan yang sama yaitu menjadikan
Indonesia yang jaya.

D i hadapan lima puluh ribu lebih anak-anak bangsa yang hadir merayakan Tahun Baru Hijriyah 1 Muharam 1429H di Al-Zaytun, bertepatan dengan Kamis 10 Januari 2008, Syaykh Al­-Zaytun Dr. Abdussalam Panji Gumilang menandaskan Pancasila adalah sebuah kekuatan yang berperan sebagai alat pemersatu bangsa. Syaykh secara khusus mengangkat keluhuran nilai­nilai Pancasila untuk mematahkan mitos yang pernah dilontarkan oleh segelintir orang yang meramalkan Indonesia akan bubar sebagai bangsa dan negara pada tahun 2015, mengikuti siklus 70 tahunan.

Pidato penegasan bahwa Pancasila adalah jembatan emas, disimak betul oleh tokoh-tokoh yang hadir sebab mereka ingin menjadikan dan melihat Indonesia terbentuk kuat, luar dan dalam. Mereka, antara lain Wakil Ketua MPR Aksa Mahmud, tokoh koperasi dan cendekiawan muslim Adi Sasono yang juga mantan Menteri Koperasi era Presiden B.J. Habibie, serta Dirjen Pendidikan Nonformal dan Informal Dr. Ace Suryadi.


Tokoh-tokoh tersebut bersama segenap eksponen Al-Zaytun menyatu bersama puluhan ribu santri beserta orangtua masing-masing, yang sengaja datang dari seluruh pelosok tanah air untuk merayakan tahun baru secara meriah. Demikian pula para kaum muslim dan muslimat yang tergabung dalam berbagai kelompok pengajian dan majelis taklim, datang dari seluruh Indonesia untuk melihat kemajuan pendidikan terpadu sistem satu pipa yang berbasiskan pesantren namun dikelola secara modern di AI-Zaytun. Kedatangan mereka sambil menikmati pula wisata rohani di sebuah pesantren yang terpencil di desa.

Tak sedikit dari antara kaum muslim dan muslimat secara spontan merogoh kocek lalu memberikan sumbangan agar Indonesia yang kuat dapat dibangun melalui pendidikan yang bersemangatkan kepesantrenan. Kampus Al-Zaytun yang diciptakan sebagai pusat pendidikan dan pengembangan budaya toleransi serta pusat pengembangan budaya perdamaian, mereka nilai sangat cocok sebagai tumpuan meraih cita-cita bangsa bersama. Tak ketinggalan, hadir pula ribuan warga masyarakat dari desa sekitar yang sangat mendukung keberadaan kampus Al-Zaytun sebagai pusat pendidikan dan perekonomian rakyat. Paling tidak selama sembilan tahun terakhir mereka sudah turut merasakan perbaikan tingkat kehidupan dan pendidikan. Dengan penampilan apa adanya, mereka berkenan hadir karena rindu mendengarkan wejangan dari pemangku pusat pendidikan terpadu Al-Zaytun, Syaykh AS Panji Gumilang.

Mereka menampakkan muka dalam dua kesempatan, pada malam tahun baru dan puncak peringatan tahun baru hijriyah. Khusus pada kesempatan pertama, usai mendengar tausiyah dari Syaykh mereka dengan suka cita pulang sambil membawa oleh-oleh khusus berupa boboko berisikan makanan lengkap dengan sayuran, kerupuk, dan lauk-pauknya.

Wujud Kebersamaan

Kemeriahan sudah mulai terasa sehari menjelang perayaan. Dan puncak perayaan Tahun Baru 1 Muharam 1429 Hijriyah berlangsung meriah sekaligus khidmat. Beragam jenis kendaraan pribadi dan bus angkutan umum berbagai ukuran terlihat lalu lalang membawa warga yang ingin merayakan peristiwa terpenting dalam tahun kalender hijriyah Mi. Kedatangan mereka disertai spanduk-spanduk bertuliskan nama rombongan dan asal­usulnya. Dari beragam spanduk itulah diketahui peserta perayaan berasal dari seluruh pelosok Tanah Air, bahkan ada dari mancanegara atau penjuru dunia lainnya.

Kedatangan tamu-tamu terhormat disambut antusias oleh para santri yang membentuk kepanitiaan di bawah koordinasi Presiden Santri Al-Zaytun. Masing-masing tamu didata dan diberikan identitas selama berada di Kampus Al-Zaytun. Dengan cekatan santri berseragamkan Pandu/Panduwati Al-Zaytun dihias slayer warna merah­putih melambangkan bendera merah­putih, melayani tamu dan memberikan petunjuk teknis seperlunya berikut jadwal lengkap perayaan demi kenyamanan para tamu. Maklum, banyak tamu yang barn pertama kali berkesempatan melihat kemegahan Kampus Al-Zaytun yang dikelola secara modern, tetapi tetap bersemangatkan pondok pesantren. Tamu-tamu lainnya ada yang sudah berkali-kali tanpa bosan-bosannya mengunjungi Al­-Zaytun.

Ketika tiba di Wisma Tamu Al-Islah para tamu kembali disambut hangat oleh para eksponen Al-Zaytun. Memasuki pukul 20.00 atau menjelang malam tahun baru, masyarakat sekitar Kampus sudah berduyun-duyun berkumpul di Masjid Al-Hayat tempat acara temu ramah dengan masyarakat dilangsungkan. Ada yang datang sendiri-sendiri sebab rumahnya dekat­dekat sekitar Kampus. Ada pula yang dijemput oleh sejumlah truk pengangkut karena mereka berasal dari desa-desa lain di Kecamatan Gantar, Indramayu.

Turunnya hujan tak menyurutkan niat masyarakat bergembira bersama Syaykh menyambut tahun baru. Pembukaan acara perayaan dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-qur'an oleh Ustadz Ziat Muhammad, dilanjutkan lantunan kalimat sahadat. Barulah kemudian Syaykh Al-Zaytun menyampaikan tausyiahnya, yang lantas membuat masyarakat merasa terhibur sebab bahasa tutur yang digunakan Syaykh beraneka macam bercampur­baur.

Syaykh pandai menyampaikan gagasan sampai-sampai tak satu pun warga yang terserang rasa kantuk. Berbagai persoalan aktual yang sedang dihadapi bangsa turut diselipkan Syaykh dalam pidato. Antara Syaykh yang tertawa terbahak-bahak, karena soal yang dikemukakan memang terasa lucu, dengan ajakan menyanyikan lagu-lagu patriotisme kebangsaan untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air, mengalir begitu saja silih berganti.

Salah satunya, Syaykh berpesan supaya masyarakat yang umumnya petani tidak boros menggunakan hasil panen padi mengingat pulau Jawa yang selama ini dikenal lumbung padi nasional sedang terendam banjir dan terkena tanah longsor. Kepada masyarakat dipesankan pula supaya waspada menghadapi musibah banjir yang sewaktu-waktu bisa datang melanda. Tausyiah Syaykh diakhiri dengan pembagian boboko kepada setiap warga yang hadir. Malam harinya diselenggarakan sejumlah kegiatan kesenian dan olahraga demi menyemarakkan malam tahun baru. Diselenggarakan pula bazaar tanaman hias dan aneka cinderamata.

Esoknya, pada pagi hari semua eksponen Al-Zaytun, guru, santri, dan tamu-tamu berkumpul di Masjid Rahmatan Lilalamin sebuah masjid terbesar Asia Tenggara yang berdiri kokoh dan didesain berusia hingga lima ratusan tahun. Masjid Rahmatan Lilalamin dibangun tujuh lantai hingga mampu menampung 15o ribu jemaah.
Di Masjid Rahmatan Lilalamin inilah Syaykh kembali menyampaikan tausiyah tahun barunya. Bedanya, para tamu terhormat yang hadir kali ini diperkenankan pula untuk menyampaikan pesan dan kesannya tentang Al-Zaytun.

Puncak perayaan Tahun Baru Hijriyah diakhiri dengan ketulusan para kaum muslimin dan muslimat dari berbagai penjuru Indonesia yang spontan naik ke mimbar upacara untuk memberikan sodakoh demi kelanjutan pembangunan pendidikan sistem satu pipa di Kampus Al-Zaytun.

Ketika pulang ke rumah masing­masing, para muslimin dan musimah yang rajin bersodakoh akan berbagai cerita dengan sesamanya betapa indah dan megahnya bertahun baru hijriyah di Kampus Al-Zaytun yang penuh kekaguman.
Nilai-nilai Kebangsaan

Dalam tausyiahnya, Syaykh menggaris-bawahi kondisi bangsa yang beraneka ragam dan dinamis namun "Tunggal Ika", membuktikan bahwa kelanjutan masa depan Indonesia sebagai bangsa akan terus bergulir. Hanya dengan sikap memandang keberagaman dalam harmonilah, Syaykh mengatakan, bangsa Indonesia akan dapat melampaui segala ramalan keretakan.

Karena itu Syaykh mengajak agar seluruh rakyat Indonesia jangan pernah memiliki rasa takut. Karena kita bangsa yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, jangan pernah mau diajak berperang sekalipun itu perang melawan kemiskinan. Tetapi, kembalikanlah semuanya kepada Tuhan. "Kita kembalikan semuanya pada ajaran Ilahi," tandasnya.

Syaykh mengatakan, setiap 1 Muharram para pemimpin terdahulu selalu mengadakan musyawarah untuk mendata berapa orang miskin, berapa yang kaya, berapa yang pintar atau kurang pintar. Kemudian dicarikan solusinya, maka itu dinamakan bulan suro. Mereka mengawali musyawarah berirama problem solving untuk keluar dari setiap permasalahan, bukan dengan kejutan-kejutan.

Sekarang, jika kita masih terus­menerus meributkan ini dan itu pasti tidak akan ada habis-habisnya. Sebab ada saja yang bisa dijadikan tema atau pemicu keributan. Tetapi, sebaiknya marilah menata Indonesia dengan pikiran sehat, otak cerdas, dan ilmu yang cukup.

Dengan pikiran sehat, otak cerdas, dan ilmu yang cukup itulah kata Syaykh kita menentang segala ramalan yang banyak muncul di zaman serba edan sekarang Mi. Salah satu ramalan itu menyebutkan konon, Indonesia tahun 2015 akan hancur lebur. Peramal beralasan siklus 7o tahunan dimana Sriwijaya hancur setelah umur 70 tahun, lalu siklus Majapahit umurnya cuma 70 tahun setelah itu tamat riwayatnya.

Syaykh menandaskan Indonesia bukan Sriwijaya, juga bukan Majapahit. Indonesia lahir dari sejarah yang sangat panjang dari Sabang sampai Merauke, sebagaimana bunyi lagu nasional kita "Dari Sabang Sampai Merauke". Tanah Air kita Indonesia, bukan Majapahit. Menjunjung Tanah Air, bukan Sriwijaya.

Indonesia yang kita junjung bukanlah Indonesia yang rambutnya putih semua, bukan yang perempuan semua, bukan yang Islam semua, bukan yang Jawa semua. "Tentu saja bukan itu," tegas Syaykh. Supaya ramalan tidak terjadi, Syaykh mengatakan Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika harus kita pertahankan. "Dengan apa saudara-saudara? Kita bukan kelompok yang optimistic, bukan. Juga tidak pesimistis. Tapi kelompok tahu dirilah," kata Syaykh, sebelum memberikan penjelasan bagaimana mempertahankan Indonesia.

Menurut Syaykh, bapak pendiri bangsa telah membangun jembatanyang dapat dilalui bersama, dan dilalui oleh siapa saja, dalam mempertahankan bangsa yaitu Pancasila atau lima dasar sebagai filosofi bangsa. Yang pertama adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Filosofi bangsa dan negara yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa kata Syaykh harus dipertahankan. Lalu yang kedua Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, disambung Persatuan Indonesia. Terus jembatan yang keempat, Kerakyatan Yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan. Dan di penghujung tapak adalah Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

"Itulah jembatan yang harus dilalui agar tidak menjadi apa yang diramalkan oleh orang, bahwa Indonesia akan hancur pada tahun 2015," kata Syaykh. Kelima jembatan emas oleh Syaykh dimaknai pula sebagai moral. Setelah otak sehat, pikiran sehat, dibekali moral, maka kelima jembatan emas harus di- manage dengan moral yang benar pula.
Dikatakan Syaykh, kita diberikan kebebasan untuk ber-Ketuhanan Yang Maha Esa. Faktanya, semua bangsa Indonesia memiliki Tuhan. Kita sebagai bangsa juga diminta bersatu dari adil sampai musyawarah, yang isinya adalah tauhid, tidak sirik, serta tidak memitoskan orang per orang. Syaykh mengatakan kita harus terus menghormati pemimpin. Siapa yang menghina, itu songkro namanya. Tetapi, pengertian menghormati pemimpin bukan berarti memitoskannya.

Kebebasan untuk menjalankan keimanan masing-masing menurut Syaykh merupakan jembatan emas yang terbukti menjadi pengikat Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika. Kita pernah membaca Piagam Madinah, dimana disebutkan seluruh bangsa yang berada di Madinah, dan dipimpin oleh Muhammad SAW, pada waktu itu dinyatakan bebas. Muhammad SAW mengajarkan satu hal saja, yaitu menjunjung tinggi Piagam Madinah. Dengan menjunjung Piagam Madinah, maka, bagi kaum Yahudi silahkan dengan Yahudimu, Nasrani silahkan dengan Nasranimu, yang utama kita pertahankan Madinah.

"Ideologi bangsa Indonesia itu juga begitu. Tidak ada masalah bila kamu mau pindah agama. Yang Nasrani, ya Nasranilah yang baik. Islam, ya Islamlah yang baik, Hindu, Hindulah yang baik. Satu, pertahankan Indonesia," kata Syaykh. Dengan mempertahankan Indonesia melalui jembatan emas lima dasar yang tertuang dalam Pancasila, Syaykh memastikan Indonesia tidak akan pernah bubar pada tahun 2015, walau pada saat itu Indonesia tepat berusia 70 tahun.

Memang tahun 2015 umur bangsa Indonesia 70 tahun. Dengan geramnya Syaykh mengatakan, enak saja orang itu mengait-ngaitkan Indonesia dengan kerajaan Majapahit dan Sriwijaya. "Maaf tamu-tamu kami yang dari luar negeri, kami sedang berbicara tentang Indonesia. Karena falsafah bangsa Indonesia diterapkan di Indonesia, bukan di Malaysia, bukan di Singapura, Thailand dan Jepang. Lima sila Indone­sia tadi diterapkan di Indonesia. Mengapa Indonesia menerima, karena dari sila pertama sampai kelima tidak ada yang menentang agama. Baik Nasrani, Islam, Yahudi sama seperti kaum muslim menerima Piagam Madinah. Padahal yang lain-lain diberikan kebebasan, ya, bebas beragama," ucap Syaykh.

Tetapi, kalau bangsa Indonesia tidak menerima sila pertama hingga sila kelima, tidak sebagaimana kaum muslim menerima Piagam Madinah, maka ramalan orang itu tidak batal melainkan akan terjadi. Itu sebab seluruh bangsa Indonesia perlu camkan, dengan pikiran yang sehat, serta moralitas yang tinggi, jangan pernah mau berpisah dengan nilai-nilai agama.

Apabila masih ada yang mau mengikuti ramalan, dan masih tidak yakin Indonesia tidak bubar pada tahun 2015, sekalipun sudah diajak Syaykh untuk mempertahankan jembatan emas, akhirnya Syaykh mempersilakan untuk ikuti saja Sriwijaya yang sudah tidak ada itu, bahkan yang peninggalannya pun sudah tidak ada. "Jangan-jangan sama Tuhannya pun sudah tidak ketemu dia," kata Syaykh, menuding orang yang masih percaya pada ramalan peramal palsu.
Global Education

Syaykh menegaskan bangsa ini dari Sabang sampai Merauke isinya bermacam-macam, setelah digabung menjadi satu namanya Indonesia. Persoalannya, sudah majukah Indonesia itu atau belum. Jawabannya adalah, inilah proses berbangsa dan bernegara. Perjalanan bangsa Indonesia sama dengan Amerika yang menjadi negara demokrasi. Hari ini kita bisa begitu menikmati perjalanan calon-calon presidennya.

Ini semua, kata Syaykh, bukanlah hal yang mendadak dan serba instan. Perjalanan sejarah Amerika sudah panjang terlewati. Amerika pernah mencatat perang saudara, sebuah catatan hitam sejarah pendahulu mereka. "Makanya, kita jangan terus terjebak perang saudara. Perang saudara itu sudah ketinggalan zaman. Kita mendengar Amerika itu tidak bisa menyatukan kulit putih dengan kulit hitam,"kata Syaykh.

Menurut Syaykh, yang perlu kita sambut dari calon presiden dari Partai Demokrat persis dengan pesan rahmatan lil alamin. Calon presiden itu mengatakan mari kita bangun Amerika, negara kita masa depan. Mari kita bangun dunia, bangun negara, bangun budaya.

Karena ada sedikit hubungan negara, ibaratnya (Barack) Obama pernah minum air Jakarta, sedikit-dikit Al­-Zaytun juga punya misi membangun negara, membangun dunia. "Melalui Barack Obama misi kita dibawa."
Berdasarkan misi Al-Zaytun membangun negara dan dunia, Syaykh mengajak seluruh hadirin supaya sama-­sama menciptakan global education (pendidikan berwawasan global). Global education menurut Syaykh syarat pertama adalah menata global thinking (cara berpikir harus global), lalu diterapkan di tingkat lokal yang paling kecil sekalipun.
"Seperti kita di sini. Al-Zaytun mencoba global thinking meskipun diterapkan di lokal yang kecil, itu temyata terasa indah dan cerdas."

Syarat kedua adalah global solidarity, membangun rasa solidaritas antar bangsa. Memecahkan masalah tidak boleh dengan emosional tapi berlandaskan pemikiran sehat, moral yang tinggi, dimana tidak terlepas dari moral-moral agama. Barulah kemudian menata tatanan antarbangsa dengan lingkungan yang indah.

Global education yang mensyaratkan global thinking, global solidarity, dan tatanan antarbangsa, Syaykh lalu berpesan agar semua hadirin sepulang dari Al-Zaytun berkenan menanam "payung Indonesia" minimal sepuluh batang kayu. Tujuannya supaya sebelum panas tiba kita sudah sedia payung, atau biar hujan turunpun sudah ada pohon yang memanyungi.

"Sebelum hujan sediakan waduk, sebelum panas sediakan payung. Payungnya jangan ditenteng, nanti cepat rusak," kata Syaykh, yang menggagas pendirian "Hutan Kota" di setiap kota di Indonesia untuk mengurangi dampak pemanasan global.

Gagasan pendirian "Hutan Kota" bukan tanpa bukti atau model. Sejak tahun 1999 atau selama delapan tahun pertama berdiri, Al-Zaytun membangun Kampus dengan segenap hati sehingga pada saat sekarang apapun yang dibangun tetap dapat berdiri tegap. Tidak ada pohon atau bangunan yang roboh seperti di Jakarta.

"Di Jakarta itu ada yang bilang kapok menanam pohon angsana. Lho, pohon angsana itu begitu indah, apalagi kalau pohonnya bergoyang seperti bergoyang tari topeng. Kok kapok? Mungkin, lantaran pohon angsananya tidak pernah diajak bergaul. Istilahnya, roboh baru ditumpahin. Maka sekarang dipotong dulu sisakan sepuluh meter nanti dia mengayomi alam semesta ini. Insya Allah," kata Syaykh, membagi pengalaman mendirikan kerindangan pohon di sekeliling Al-Zaytun.

Untuk memperkuat ide pendirian "Hutan Kota" di seluruh kota di Indone­sia, Syaykh memberikan contoh bagaimana orang-orang tua kita terdahulu bahkan sejak zaman Nabi Adam pun sudah menanam pohon. Kayu yang ditanam besar-besar.

Para pendahulu kita yang telah menanam pohon-pohon, lalu kita datang dan menggergaji semuanya. Setelah digergaji dijadikan kue, dijadikan nasi, dijadikan uang dan segala macam­-macam. "Kita sekarang menanam sebanyak-banyaknya untuk generasi Indonesia yang akan datang. Dan itulah yang namanya "bangunlah jiwanya, bangunlah badannya untuk Indonesia raya, lagu kita seperti lagu wajib saja," kata Syaykh.

Membangun "Hutan Kota" tidaklah sulit. Sama seperti mengatur negara itu enteng-enteng saja, tapi harus tetap serius. Dengan kerendahan hati, Syaykh mengajak kita menghadapi Indonesia dengan tahu diri, dan mendidik generasi dengan global education. Kita kerahkan mulai dari lokal yang paling kecil, seperti sebuah desa yang sempit, atau ditempat yang paling tidak dikenal oleh orang besar, atau seperti Al-Zaytun. Namun nantinya dari tempat terpencil Kampus Al-Zaytun pengaruhnya akan mengglobal karena takdirnya takdir lil alamin.

"Sekarang, apakah masih takut kalau Indonesia diramal akan bubar pada tahun 2015 nanti?" tanya Syaykh, sekali lagi untuk meyakinkan hadirin masa depan bangsa yang akan kuat. Syaykh mengatakan di Indonesia terdapat banyak agama. Pertahankanlah Indone­sia dengan etos Indonesia, sebuah etos yang tercermin dalam filosofi negara dan ideologi sekarang yaitu Pancasila. "Mari kita lewati jembatan itu, mari masuk dan berkiprah bersama-sama. Insya Allah, zaman edan ini akan segera selesai," tuturnya.
Mengayuh Hidup

Syaykh memaknai Tahun Baru Hijriah 1429 sebagai tahun baru komariah. Inilah tahun baru milik semua. Di pembuka tahun baru hijriyah Syaykh menyebutkan ada satu olahraga baru yang mulai dibuka di Al-Zaytun, setelah sebelumnya bermacam-macam jenis olahraga berhasil dipopulerkan seperti sepakbola, atletik, softbol, bolavoli dan lain-lain.
"Sekarang giliran olahraga sepeda sehat. Dinamakan ASSA, karena "asa" itu artinya nyali. Jadi putus "asa" berarti putus nyali. Maka kita namakan kegiatan sehat ini sebagai "Asosiasi Sepeda Sport Al-Zaytun" disingkat ASSA. Hari ini kita resmikan," kata Syaykh.

Setiap olahraga yang diberlakukan secara resmi di Al-Zaytun memiliki bendera masing-masing, terlebih olahraga yang sudah lama berdiri. Lalu, bendera ASSA? "Ini benderanya kuning. Karena kuning itu emas, roda berjalan di emas. Kalau kita berjalan di jalan berwarna kuning itu menandakan rakyat sejahtera. Kalau emas kita kantongin itu kaya raya. Kalau emas kita taruh di telinga akan menambah cantik rupa," kata Syaykh. Warna emas menjadi warna resmi bendera ASSA karena Al­-Zaytun sangat ingin memiliki lambang yang memaknakan kekuatan raksasa. Kemudian di dalamnya masih ada warna merah, putih, hijau. Tentu saja, dengan tidak menyinggung bendera-bendara yang tidak kuning.

"Ini simbol huruf ASSA, kemudian roda di dalam roda menggelinding naik ke atas menandakan punya nyali yang tinggi dan punya kecepatan yang tinggi. Siapa pun yang mau ikut menjadi anggota pasti diterima tanpa syarat. Kecuali mendaftar, harus bayar uang iuran tiap bulan. Kita ambil sepeda Giant saja yang dipakai di banyak negara di dunia," kata Syaykh, merencanakan akan melakukan gerakan pertama berkeliling sepeda sepanjang pulau Jawa pada tanggal 1 Juni 2008. Hebatnya lagi, keliling sepeda pulau Jawa dilakukan sambil menanam pohon di setiap kota pemberhentian demi mewujudkan gagasan pendirian "Hutan Kota". Menanam pohon sebagai wujud pengorbanan menyelamatkan bumi dari ancaman kehancuran.

"Kita akan tanam lagi. Kita akan tanam pohon mahoni dan jenis pohon lainnya. Syaratnya tanaman itu sudah satu meter supaya jangan takut kena global warning. Sanggupkah kita memelihara? Sanggup, tinggal buktikan saja," kata Syaykh mengakhiri pidatonya dengan tangkas.

Pemimpin Masa Depan

Sejumlah undangan kehormatan datang mewarnai kemeriahan perayaan 1 Muharram 1429 H Al-Zaytun. H. Rosidi yang mewakili Kepala Kantor Depag Wilayah Provinsi Jabar menyatakan rasa bangsa dan bahagia sejak berdirinya Al-Zaytun. "Sekalipun ini adanya di Indramayu, tapi alhamdulillah membawa nama baik, nama harum bangsa Indonesia," katanya. Dia juga melaporkan bahwa MTs yang ada di Al-Zaytun dapat dibanggakan, karena berada di tingkat pertama di Provinsi Jabar.

Dirjen Pendidikan Nonformal dan Informal Depdiknas Dr Ace Suryadi dalam sambutannya mengatakan bahwa apa yang terjadi di Ma'had Al-Zaytun ini adalah seperti yang dipikirkan oleh para pemikir pendidikan sejak jaman dulu. "Saya melihat dan setiap saat saya ingin belajar apa yang terpikirkan oleh filsafat pendidikan modern itu terjadi di sini. Itu terjadi karena ada kesungguhan dari seluruh jajaran di bawah pimpinan Syaykh Panji Gumilang, bahwa sistem pendidikan ini berlaku sistem pendidikan sepanjang hayat," kata Ace Suryadi.

Menurutnya, banyak yang sudah dilaksanakan di Al-Zaytun, sebagian besar cocok sekali dengan komponen pendidikan yang sedang dia lakukan di Depdiknas sekarang yaitu pendidikan non formal dan pendidikan informal. Maka, Ace menyatakan keinginannya untuk lebih jauh lagi bekerja sama denga Al-Zaytun. "Kalau kita jadikan Ma'had Al-Zaytun ini sebagai tempat menimba ilmu-ilmu, tempat melakukan riset, tempat melakukan perkembangan berbagai model pendidikan nonformal, dan kami siap untuk melakukan bekerjasama," tegasnya.

Menurut Ace, kalau kita sudah punya model pendidikan nonformal yang sudah betul-betul berjalan, kami bermaksud akan menyebarkan kepada seluruh pesantren di Indonesia. "Saya kira ini adalah salah satu terobosan. Kalau kita bergerak di dunia pesantren, kita bergerak di seluruh wilayah Indonesia, khususnya dunia Islam," ujar Ace.

Dia pun menyebut beberapa hal yang baik untuk kita contoh, untuk kita belajar dari Ma'had Al-Zaytun. Misalnya di dunia pendidikan pertanian pangan, pendidikan peternakan, pendidikan kepribadian, pendidikan keaksaraan, pendidikan kesetaraan itu sudah terjadi di Ma'had Al-Zaytun. "Kami ingin mengambil pengalaman ini untuk dijadikan sebagai pilot dan disebarkan secara merata ke semakin banyak pesantren di Indonesia ini," kata Ace Suryadi.

Ketua Dewan Koperasi Indonesia Adi Sasono dalam sambutannya menyatakan alangkah indahnya hari ini di Ma'had Al-Zaytun dalam menyambut tahun baru hijriyah. "Di sini kita merasakan optimisme, kita merasakan harapan masa depan bagi umat dan bangsa Indonesia," kata Adi Sasono.

Adi Sasono mengemukakan negara­-negara yang berada di dunia ini dibagi dalam empat golongan. Kesatu, ada negara kaya raya sumber daya alamnya tapi rakyatnya kaya raya juga, contoh Amerika Serikat, Australia. Kedua, ada negara miskin sumber daya alam rakyatnya kaya raya, contoh Jepang Korea, Taiwan. Ketiga, ada negara miskin sumber alam, rakyatnya juga miskin, contoh itu seperti Bangladesh, negara Afrika miskin sumber daya alam dan rakyatnya juga ikut miskin. Keempat, ada negara kaya akan sumber daya alam tapi banyak orang miskin, itu adalah republik mimpi.

Kemudian dia mengungkapkan, janji para pemimpin RI sewaktu merdeka adalah untuk menyusun ekonomi Indonesia berdasarkan atas asas kekeluargaan. Dia pun bangga karena koperasi di Ma'had Al-Zaytun juga berkembang. Adi Sasono mengungkapkan anggota koperasi sekarang sudah mencapai 35 juta orang, hampir sepuluh kali lipat penduduk Singapura. Koperasi juga dibantu oleh pemerintah walaupun hanya sedikit saja. Sebagian besar koperasi hidup sendiri.

Dia menyebut kunci keberhasilan koperasi adalah kejujuran. "Kita hijrah dari sifat amanah, kalau koperasi dipegang orang jujur, orang akan menaroh uang. Di Singapura, itu kalau melihat pedagang eceran 6o persen dikuasai oleh koperasi," katanya.

Wakil Ketua MPR RI Aksa Mahmud dalam sambutannya mengemukakan bahwa dia merasa bangga di Ma'had Al­-Zaytun karena rasanya sudah tercapai cita-cita pendidikan nasional bila kita berada di kompleks ini. Dia berharap ke depan bangsa ini mempunyai pendidikan agama yang akan melahirkan budi pekerti, etika moral dan akan melahirkan ketakwaan yang baik. "Apabila pemimpin kita ke depan sudah lahir pada anak bangsa yang memiliki pendidikan yang baik, maka saya yakin pemberantasan korupsi akan berkurang," katanya.

"Oleh karena itu, kepada para bapak/ ibu yang telah mendidik anaknya di pesantren Ma'had Al-Zaytun ini, saya merasa dan bapak/ibu merasa bangga, bahwa ke depan Ma'had Al-Zaytun ini akan mendapat kesempatan, mengatur dan memimpin bangsa ini. Bangsa ini sangat merindukan pemimpinnya yang mempunyai akhlak, mempunyai budi pekerti," kata Aksa Mahmud.

Oleh karena itulah, Aksa Mahmud berharap Ma'had Al-Zaytun ini jangan hanya di Indramayu. "Mungkin Syaykh sudah berpikir ke depan agar tiap pulau yang besar seperti Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Irian Jaya akan ada cabang-cabang Ma'had Al-Zaytun," harap putra Sulsel itu.

Aksa mengemukakan perlu ada perubahan terhadap pendidikan santri, terutama yang masih menganut pendidikan santri konvensional. Dalam kaitan ini, Aksa mengungkapkan banyak tantangan yang dihadapi Ma'had Al-Zaytun. "Tidak sedikit orang menganut pikiran negatif terhadap Ma'had Al-Zaytun, dan saya selalu berbicara inilah yang tidak benar. Bahwa justru cita-cita kita sebagai umat Islam perlu meneladani, perlu mencontoh, perlu menyeragamkan seluruh santri Indonesia sama dengan standar yang ada di Ma'had Al-Zaytun ini," kata Aksa.

Hal ini dikemukakannya, karena Ma'had Al-Zaytun tidak hanya mencetak ustadz, tapi berdasarkan penglihatannya dan yang diterangkan oleh Syaykh bahwa seluruh ilmu akan ada di sini. Anak-anak kita mempunyai IQ, jarang santri bisa berkomunikasi dengan dunia luar, tetapi di Ma'had Al-Zaytun ini anak-anak sudah memiliki seperti itu.

Oleh karena itu, kata Aksa Mahmud, dengan keunggulan-keunggulan yang dimiliki Ma'had Al-Zaytun, barangkali anak-anak kita di kompleks Ma'had Al­Zaytun ini sudah bisa bermain di pasar modal.

Menurutnya, orang yang cepat kaya sekarang ini adalah orang yang cepat memiliki kekuatan ekonomi yang bermain di pasar modal. "Kenapa? Seperti yang saya katakan tadi, bahwa pasar modal tempat perputaran uang yang begitu cepat, tiap hari berputar. Berarti berapa hari kerja itu hari perputaran uang. Dan secara teori ekonomi bahwa semakin cepat uang berputar makin cepat eksis pertumbuhannya. Oleh karena itu, orang yang bermain di pasar modal, tentu adalah orang-orang yang mempunyai pertumbuhan kehidupan dan ekonomi serta usaha akan lebih cepat. Harapan saya kepada anak-anak yang menekuni IT di Ma'had Al-Zaytun ini akan menjadi usahawan-usahawan yang unggul dan mempunyai peringkat­peringkat nasional ini," ujar Aksa Mahmud.

"Sewaktu saya dibawa meninjau IT, saya yakin bahwa di sinilah akan lahir para pemuka-pemuka bangsa ini, karena hanya dengan menguasai IT akan lahirlah pengusaha yang handal, seperti yang dikatakan bapak Adi Sasoni tadi, bahwa kekayaan alam kita ini, kita terlalu sedikit menikmati, justru orang luarlah yang menikmati kekayaan alam kita," ujarnya.

Menurut Aksa, kita adalah salah satunya negara yang mempunyai kekayaan yang terlalu besar, isi dari perut bumi yang terlalu banyak, tetapi kita masih tergolong orang dan negara yang miskin. Masih dalam kategori masyarakat bawah, padahal sekarang pada fase ini semua negara yang memiliki kekayaan alam perut buminya itu akan menjadi negara kaya. "Harapan saya, bahwa dengan belajar yang baik dengan landasan agama yang baik maka kita akan mempunyai keunggulan dan kita akan menghantar bangsa kita menjadi bangsa yang besar, bangsa yang bermoral, berakhlak dan mempunyai kemajuan ekonomi yang unggul dan handal," harap Aksa Mahmud, pendiri perusahaan Bosowa Grup.

Sumber : Majalah Berita Indonesia – Edisi 54, Januari 2008
Bacaan Selanjutnya!

Bangun Jiwa Raga Selaras Lingkungan

Amanat 1 Muharam 1429 H,
Syaykh Al-Zaytun AS Panji Gumilang

Dalam rangka menyematkan semangat peduli lingkungan, Al-Zaytun mencanangkan program sehat keliling Jawa sambil menebar bibit pohon.

Sejak pertama Tuhan menciptakan bumi dan seisinya, manusia diciptakan sebagai mahluk yang terbaik secara rohaniah dan jasmaniah. Sudah menjadi fitrah manusia, memiliki perasaan tunduk kepada Yang Maha Tinggi. Prinsip monoteisme, selari dengan filosofi bangsa ini, yang pertama adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Semua bangsa meyakini kebenaran sejati. Semua agama-agama menunjukan adanya kebenaran sejati. Berbagai agama lahir untuk mengatur kehidupan bersama. Tuhan Yang maha Tinggi pasti memuliakan seluruh keturunan Adam.

Selanjutnya adalah Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab. Maka penghapusan semua bentuk diskriminasi menjadi cermin sikap yang tegas. Semua hak azasi manusia dilindungi dengan azas demokratisasi sehingga tercipta pembangunan yang adil berimbang, mementingkan segi manusiawi, dan berkelajutan. Perlu dikembangkannya rasa cinta untuk kemanusiaan dan lingkungan, sehingga tercipta kesadaran tentang pentingnya hidup dalam harmoni dengan lingkungannya.

Meski pembelajaran demokratisasi masih terus berproses, kita patut mendukung tujuan mulia, meraih Persatuan Indonesia. Kemajemukan bangsa bukan berarti diferensiasi. Membela negara adalah kewajiban kita bersama. Wahai bangsa Indone­sia, marilah kita bersatu dengan adil dalam musyawarah. Bangsa kita, bangsa Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke yang isinya bermacam-macam, sambung menyambung menjadi satu itulah Indonesia. Kebebasan untuk menjalankan keimanan masing­masing, itulah pengikat Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika. Itulah Jembatan Emas yang harus dilalui agar tidak terjadi apa yang diramalkan oleh orang, bahwa Indonesia akan hancur pada tahun 2015.

Pertikaian dan perselisihan bisa saja terjadi, namun dengan saling menghormati dan memahami bisa menjadi jembatan menuju Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan. Jadi pemimpin harus dihormati. Dihormati, bukan dijadikan mitos. Nilai-nilai luhur yang diungkapkan tadi merupakan langkah menapaki jenjang Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Jika semuanya terwujud, proses pada semua aspek akan mengarah pada keadilan yang selaras dengan perdamaian. Setiap warga negara secara rasional menghormati martabat manusia dan bisa saling berbagi komitmen pada persamaan dan berusaha ke arah tujuan bersama, jalan bersama Jembatan Emas mempersatukan cita-cita bangsa kita.

Itulah yang disebut dengan moral. Jembatan yang mempunyai kekuatan yang berperan sebagai alat pemersatu bangsa. Prinsip-prinsip teguh yang menjadi manifestasi pembangunan jiwa raga bangsa in di masa sekarang dan mendatang.

Di tengah perubahan global yang menderas, perubahan-perubahan dan tantangan di masa mendatang memerlukan Jembatan Emas pemersatu bangsa yang majemuk ini. Dengan berusaha sedaya-upaya untuk menuju pembangunan berkeadilan diperlukan filosofi misi yang mencakup seluruh golongan, seluruh ras, seluruh bangsa bisa hidup berdampingan dengan damai dan sejahtera. Di tengah arus globalisasi, Indonesia dengan ciri-ciri kebudayaan an sosio-ekonomik yang unik, haruslah tangguh menghadapi tantangan­tantangan yang terus meningkat. Dengan menerima perbedaan­perbedaan yang ada dalam bangsa ini, maka kita akan segera menyelesaikan isu-isu perdamaian, demokrasi, hak azasi, dan pembangunan berkelanjutan dengan sesegera mungkin. Memegang teguh supremasi aturan dan ajaran Ilahi, toleransi menghormati hak asasi tiap manusia akan menuju keadilan dan kedamaian.
Menata Lingkungan

Tahun barn Hijrah 1429 ini adalah tahun baru milik semua. Di pembuka tahun baru Hijriyah ini ditandai dengan kegairahan dan semangat untuk menata alam lingkungan lebih bijaksana. Memasuki tahun barn kita sematkan semangat peduli lingkungan, menebar bibit, menanam pohon. Menata lingkungan adalah manifestasi membangun jiwa raga bangsa, untuk hari ini dan masa mendatang. Bibit yang ditanam, tidak semata-mata ditanam. Harus disiram, dipupuk dan dipelihara supaya tumbuh kuat.

Dalam rangka itu, Al-Zaytun mencanangkan program sehat sambil menata lingkungan. Bersepeda sehat keliling Jawa sambil menebar bibit pohon. Bersepeda menguatkan jantung, sekaligus melawan pengrusakan alam yang sedang diancam pemanasan global. Tanggal 1 Juni mendatang, Al-Zaytun akan mengayuh sepeda menjemput asa, menjemput semangat hidup untuk membuat lingkungan ijo-royo-royo. Di bawah bendera ASSA (Asosiasi Sepeda Sport Al-Zaytun) yang diresmikan tepat 1 Muharram, Al-Zaytun mengajak semua pihak tanpa kecuali untuk bersepeda keliling Jawa menanami bibit pohon sambil menebar makna pembangunan berkelanjutan. ASSA sebagai wahana untuk menyosialisasikan sikap hidup yang cinta kemanusiaan dan lingkungan.

Disadari atau tidak, bangsa Indonesia dari masa ke masa sudah masuk ke dalam ruang pembangunan. Karena membangun bangsa pada prinsipnya sinergis terhadap kondisi manusia dan lingkungannya. Membangun dalam keadaan krisis lingkungan seperti ini perlu dicermati penataan kembali program-program keseimbangan alam dan kehidupan lingkungan secara holistik dan dinamis yang meliputi: manusia, alam, segi sosial, dan dunia secara keseluruhan. Menciptakan kesadaran lingkungan akan memperluas pembangunan dan kontinuitas antar-ras manusia. Sehingga tercapai interaksi dinamis antara perubahan-perubahan menuju perbaikan umat secara keseluruhan.

Bersepeda menjemput asa (hidup), seperti deru roda pembangunan yang serasi, selaras dengan lingkungan. Bersepeda bersama, beriringan, memupuk rasa kebersamaan dan persaudaraan sambil menata hidup bersama. Menghijaukan lingkungan secara kebersamaan, tak kecuali siapapun, akan menghidupkan semangat hidup bersama sehingga kita semua tak pandang bulu bekerja sama untuk memperoleh instrumentasi pengertian belajar hidup bersama harmoni dengan alam. Mengayuh kesempatan-kesempatan untuk terus memperluas proses nilai-nilai universalitas.

Keragaman tradisi dan budaya bangsa ini menyimpan banyak kearifan terhadap lingkungan. Orang Aceh bilang tanah air itu kendi. Karena kendi itu adalah tempat di mana kita berdiri, artinya menjunjung nilai kearifan terhadap lingkungan tempat kita tinggal . Kita harus mempertahankan persatuan masyarakat desa, kesatuan seperti bulatnya pembuluh air. Saling sapa dalam damai. Itulah semangat dan pesan 1 Muharram yang harus hidup dalam jiwa kita.

Tahun baru 1 Muharram ditandai banyak perubahan-perubahan. Semangat perubahan itulah yang dimaksud 'hijriyah' itu bagaimana hakekat adanya pertumbuhan dengan adanya perubahan sesuatu yang lebih baik lagi.

Mahad Al-Zaytun terus mengajak untuk bersikap terbuka pada proses pembelajaran. Belajar memahami demokrasi, belajar menghormati pemimpin, belajar hidup bersama yang harmonis, belajar mencintai alam dengan menata lingkungan. Kita menanam bibit pohon untuk puluhan tahun ke depan. Kita mendidik umat untuk membangun jiwa raga manusia yang bijak bestari.

Sumber : Majalah Berita Indonesia Edisi 54, Tahun 2008
Bacaan Selanjutnya!

Sunday, June 03, 2007

Al-Zaytun dan Masyarakat Cibanoang Bangun P4BI

Membangun Bangsa Berpendidikan yang mampu bersifat Toleran dan Damai

Al-Zaytun, pusat pendidikan terpadu yang tak pernah tidur! Saban hari, siang dan malam, terus berkarya untuk membangun putra-putri bangsa Indonesia gang berpendidikan, bangsa gang kelak mampu bertoleransi dan bersikap damai dalam hidup dan kehidupannya. Memasuki usianya genap delapan tahun, dan bertepatan momentum Hari Kebangkitan Nasional 2007, AI-Zaytun melangkah melanjutkan karyanya membangkitkan semangat masyarakat Cibanoang, Mekarjaya, Gantar, Indramayu, Jawa Barest, untuk secara bersama membangun Pusat Pendidikan Putra-Putri Bangsa Indonesia [P4BI) di desa terpencil itu. Ditandai peletakan batu asas pembangunan P4BI tersebut, Sabtu, 19 Mei 2007.

Peletakkan batu asas pembangunan Pusat Pendidikan Putra-Putri Bangsa Indonesia (P4BI) itu dilakukan civitas akademika AI-Zaytun, dari santri, mahasiswa, guru, eksponen dan karyawan bersama-sama dengan masyarakat Cibanoang. Peletakan batu pertama bertambah istimewa, karena acara yang dilakukan di pelosok desa tersebut dihadiri oleh 11 wartawan dari Amerika, Malaysia, Vietnam dan Indonesia yang tergabung dalam East West Center (EWC). Rombongan yang dipimpin oleh Richard Baker ikut serta meletakan batu pertama P4BI yang rencana pembangunannya selesai dalam 31 hari.

Pembangunan P4BI ini merupakan realisasi janji Syaykh Al-Zaytun AS Panji Gumilang kepada Dirjen PLS (Pendidikan Luar Sekolah) Dr Ace Suryadi beberapa waktu yang lalu. Bangunan Pusat Pendidikan Putra-Putri Bangsa Indonesia yang akan dibangun ini berukuran 6 x 16 meter dilengkapi sarana olahraga, seperti lapangan basket dan sepakbola di atas lahan satu hektar. Rencananya gedung pertama ini akan diselesaikan dalam waktu satu bulan, dan akan diresmikan tanggal 23 Juni. Untuk itu karyawan Al-Zaytun bersama masyarakat Cibanoang bekerja siang dan malam untuk mewujudkannya. Pembangunan ini merupakan langkah awal dan nanti akan dibangun lagi dengan ukurannya lebih besar, untuk, menampung kegiatan lainnya.

Dalam sambutannya, Syaykh Al­-Zaytun AS Panji Gumilang mengatakan bahwa Pusat Pendidikan Putra-Putri Bangsa Indonesia yang akan dibangun merupakan pusat pendidikan untuk menciptakan pembangunan bangsa. "Pembangunan bangsa yang berpendidikan dan mampu bertoleransi, bangsa yang mampu bersikap damai dalam hidup dan kehidupannya," ujar Syaykh AS Panji Gumilang dengan suara lantang.
"Kita mulai dari kampung yang sangat jauh dari kota, kampung yang tidak dipedulikan oleh banyak orang, tidak memiliki tempat pendidikan yang layak," ujar Syaykh.

Asbab Al-nuzul dibangunnya P4BI di Cibanoang ini bermula dari keprihatinan Syaykh AS Panji Gumilang yang tiap pagi dan petang melewati daerah itu saat meninjau Proyek Ketahanan Terpadu Pertanian Tanaman Pangan dan Hutan Tanaman Industri Al-Zaytun di Windu Kencana. Prihatin menyaksikan tempat belajar calon pemimpin bangsa Indonesia yang menyerupai kandang kambing.

"Sekolahmu tidak boleh dibangun di atas tanah seratus meter persegi, tidak boleh. Indonesia lugs, sama dengan luasnya Amerika Serikat. Sekolahmu tidak boleh loo meter persegi, sekolahmu minimal satu hektare," kata Syaykh.

Cibanoang merupakan kampung yang sangat jauh dari kota, kampung yang tidak pernah dipedulikan banyak orang dan tidak memiliki tempat pendidikan yang layak. "Tempat mendidik calon pemimpin bangsa Indonesia yang tidak layak ini tidak bijak. Kita bukan bangsa yang besar kalau kita tidak
memperhatikan pendidikan. Untuk itu masyarakat bersama-sama Al-Zaytun bertekad membangun pusat pendidikan ini untuk memajukan bangsa melalui anak-anak muda," ujar Syaykh Al­Zaytun. Untuk itu masyarakat Cibanoang bersama Al-Zaytun bertekad membangun pusat pendidikan ini untuk memajukan bangsa Indonesia. Rakyat Cibanoang bangkit bersama masyarakat Al-Zaytun untuk membangun pendidikan. "Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya," Syaykh Al-Zaytun mengutip lagu Indonesia Raya.

Masyarakat Bangga dan Bahagia

Masyarakat Cibanoang menyambut antusias dan merasa bahagia dibangunnya P4BI ini. "Saga sangat bahagia sekah dengan dibangunnya sekolah di desa saya. Selama ini saya bersekolah jauh, jalannya rusak dan kalau hujan enggak bisa sekolah," kata Andi Arianto, Kelas IV Madrasah Diniyah Awaliyah.
James O'Toole, Poliyics Editor Pittsburgh Post Gazette, juga memberikan apresiasi dengan dibangunnya P4BI. "Ini merupakan contoh yang baik dan positif dan sungguh sangat menarik, dan saya bangga ikut meletakkan batu pertama," katanya.

P4BI telah memberi angin perubahan ke arah perbaikan kualitas pendidikan di Desa Cibanoang yang selama ini tak pernah tersentuh pembangunan pendidikan oleh pemimpin negaranya. Selama ini, anak-anak harus mengecap pendidikan dengan kondisi kelas yang tak ubahnya seperti kandang kambing. Berlantai tanah, Binding anyaman bambu yang sudah banyak yang hancur, atap berlobang yang jika musim hujan bocor. "Sekarang masyarakat bangkit, 20 Mei adalah Hari Kebangkitan Nasional, diawali oleh masyarakat Cibanoang membangun pusat pendidikan," kata Syaykh. Dan, Cibanoang yang menurut Syaykh AI-Zaytun merupakan sungai yang bisa menghasilkan emas bisa tercipta. Tentu saja dengan pendidikan yang memadai.

Syaykh juga menyebut keistimewaan Cibanoang lantaran peletakan asas itu dihadiri oleh wartawan dari Amerika Serikat. Syaykh memperkenalkan pimpinan rombongan Mr Richard, dari Amerika Serikat tapi bahasa Indonesianya lebih bagus dari pada masyarakat Indonesia di Cibanoang.

Kepada rombongan wartawan yang tergabung dalam East West Center (EWC) Hawaii – Amerika Serikat, itu, Syaykh AI-Zaytun menjelaskan: "Ini namanya Cibanoang, sungai yang bisa menghasilkan emas. Banoang itu sebuah buah yang bisa menjadi emas. Tapi belum tersentuh oleh pembangunan pendidikan oleh pimpinan negaranya. Sekarang masyarakat bangkit, besok tanggal 20 adalah hari kebangkitan nasional, diawali dari masyarakat Cibanoang membangun sebuah pusat pendidikan. Tidak terlalu besar, hanya seluas 6 x 16 meter di lahan 10 ribu meter. Dan ini tahap pertama, mudah­mudahan nanti Pak Richard datang lagi, dan akan kita bangun lagi, bangun lagi yang lebih besar."

Syaykh berpesan, tolong sampaikan kepada bangsa Amerika, di Cibanoang ada sekolah yang barn dibangun karena tidak tersentuh oleh kebijakan pemerintahnya. Dibangun oleh rakyat sendiri, buat rakyat Indonesia yang ada di sini.
"Kita buktikan bahwa masyarakat Cibanoang mampu membangun. Kita bangun 31 hari, alias satu bulan. Hari ini kita mulai, dan tanggal 23 Juni kita akan resmikan. Kita undang pemimpin-pemimpin supaya paham, di sini masyarakatnya sudah tidak sabar menunggu apa kebijakan yang akan diberikan oleh pemimpinnya, sehingga membangun sendiri," urai Syaykh Al­Zaytun.

Syaykh menyampaikan rasa iba, haru dan bangga karena masyarakat Cibanoang mampu membangun. "Kami hanya mendatangkan tukang, kami hanya mendatangkan batu, tidak pakai uang membangun, sama sekali tidak menggunakan uang, tidak penting uang itu. Yang penting ada batu, batu ada pabriknya, batu bata ada pabriknya, semen ada pabriknya, kayu ada hutannya, genteng ada pabriknya, tidak laku uang itu. Apalagi masyarakat tidak dipungut uang sesen pun, hanya mengumpulkan padi 20 Kg untuk memberi makan tukang selama satu bulan," jelas Syaykh.

Syaykh memaparkan bangsa berpendidikan itu maknanya bangsa yang akan punya masa depan, akan mampu menginjak masa depannya dengan baik. Bangsa yang pendidikannya kurang akan suram masa depannya. "Maka anak-anakku rebut pendidikan, rebut toleransi. Akan kita dirikan sekolah tingkat dasar, kemudian nanti tingkat menengah, kemudian tingkat menengah atas, kemudian perguruan tingginya ke Universitas Al-­Zaytun," katanya.

Lalu, Syaykh bertanya: "Siapa yang membiayai sekolah ini nanti?" Dan kemudian dijawabnya sendiri: "Kita bangsa yang kuat, masyarakat yang kuat, yayasan pesantren Indonesia yang kuat, karena didukung oleh masyarakat. Jangan kahwatir biaya pendidikan, paling-paling kita cuma urunan. Tidak usah membayar, tapi urunan." Bagaimana caranya? "Karena di sini punya padi, urun pakai padi, yang punya jagung urun pakai jagung, tidak punya jagung tidak punya padi, hanya punya tenaga urun tenaga, tidak punya tenaga urun doa," jelas Syaykh, lalu mengajak segenap hadirin berdoa dan berbasmalah.

Setelah ini Syaykh memimpin membaca Asmau Al-Husna sebanyak 100 nama-nama Allah, Alhamdulilah, tepat pukul 14.00 kurang dua menit peletakan batu asas dilakukan. Syaykh mempersilakan wakil ketua YPI, H Imam Suprianto maju ke depan, sekertaris Yayasan Ustadz Abdul Halim memegang tabir dan menunggu komando, sesuai sirine yang berbunyi.
Kemudian mempersilakan para pelajar putra-putri, masyarakat pemuda putra-putri, kemudian orang tua putra­putri, dan masyarakat lainnya, disusul oleh pelajar Al-Zaytun, mahasiswa AI-Zaytun, dan masyarakat AI-Zaytun serta rombongan dari masyarakat jurnalis Amerika Serikat memasang batu pertama sebagai kenang-kenangan tempat pendidikan yang akan go public. go international, dan go global. (Sumber Majalah Berita Indonesia – Edisi 39/2007).
Bacaan Selanjutnya!

Wednesday, May 16, 2007

Belajar Manajemen Air dari Al-Zaytun

Indonesia dari tahun ke tahun mengalami siklus krisis air. Baik krisis air akibat kekeringan maupun krisis (bencana) air akibat kebanjiran. Pengalaman terdekat, sejak pertengahan hingga akhir tahun 2006 bahkan sampai Januari 2007, berbagai wilayah Indonesia mengalami kekeringan [musim kemarau]. Akibatnya banyak petani yang tidak bisa bercocok tanam [berakibat terjadinya krisis pangan]. Kernudian sejak akhir Januari sampai April 2007, hujan turun dan terjadi bencana banjir di mana-mana. Anehnya, bangsa ini seperti tidak mau belajar dari pengalaman, dan secara berulang selalu terperosok ke lubang (krisis air yang sama.

Belajar dari siklus krisis air itu, sangat berguna bila para pemimpin negeri ini berkenan menyempatkan waktu untuk memperhatikan manajemen pengelolaan air di Al­-Zaytun. Sebuah pondok pesantren modern, yang lebih layak disebut kampus, seluas 1.200 hektar yang berada di Desa Sandrem, Gantar, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Indonesia.

Al-Zaytun, tentu juga mengalami siklus musim kemarau dan musim hujan yang sama dengan kawasan sekitarnya. Kawasan kampus ini sebelumnya gersang, kekeringan pada musim kemarau. Maka sejak awal, Syaykh AS Panji Gumilang sebagai grand design pembangunan kampus terpadu (pendidikan dan ekonomi) ini, telah memadukan manajemen pem­bangunan infrastruktur pendidikan dengan manajemen pengelolaan dan pemanfaatan air secara efektif.

"Air adalah unsur penting untuk kehidupan," tegas Syaykh Al-Zaytun Dr Abdussalam Panji Gumilang. Tanpa air dalam beberapa hari saja, kita tidak akan mampu bertahan hidup. Namun, jika tidak dikelola dengan baik, air bisa menimbulkan malapetaka (bencana) bagi kelangsungan hidup manusia, menjadi air bah yang menghancurkan senior yang dilintasinya. Maka sebagai manusia yang diberi hak clan kewajiban hidup di bumf, haruslah mampu memanfaatkan dan mengelola air dengan bijak dan cerdas.

Di pondok pesantren modern komprehensif (kampus) ini, kita bisa menyaksikan bagaimana air benar-­benar dikelola sebagai unsur utama bagi kehidupan: dipanen, disimpan dalam `lumbung air' dan dimanfaatkan secara berulang. Di kompleks AI-Zaytun ini kita disadarkan agar memperlakukan air sebagai sesuatu yang sangat bernilai serta memanfaatkannya secara bijak dan terjaga dari pencemaran.

Namun demikian, pada musim kemarau 2006 hingga Januari 2007, Al­Zaytun juga masih hampir terkena krisis air, walau tidak separah kawasan sekitarnya. Hal mana Al-Zaytun juga masih mengalami gangguan dalam memulai bercocok tanam hingga awal Januari 2007. Padahal, tahun-tahun sebelumnya, krisis air seperti itu tidak lagi pernah dialami Al-Zaytun.

Syaykh menjelaskan siklus kekeringan seperti tahun 2006 itu pernah terjadi pada tahun 1970-an. "Menjelang Pemilihan Umum 1971, terjadi musim kemarau sampai tujuh bulan dan sekarang terjadi kembali di tahun 2006­ 2007. Kita bisa hitung sesuai putaran musim tahun 1971 sampai 2006 dinamakan selapan tahun. Perhitungan hari, orang Jawa sering menyebutnya dalam selapan hari, itu sama dengan 35 hari. Sloso wage ketemu Sloso wage lagi, itulah 35 hari. Hitungan tahun seperti ini perhitungannya 35 tahun namanya," jelas Syaykh berdasarkan pengalaman dan catatannya.

Dari pengalaman itu, menurut Syaykh, mestinya bangsa Indonesia paham dan bangkit dari kejadian kekeringan itu. "Namun bangsa Indonesia belum pernah dapat belajar dari tunjuk ajar yang diberikan alam atau dalam bahasa teologinya yang diberikan oleh Tuhan. Mudah-mudahan krisis air dan pangan yang berkepanjangan seperti ini tidak terjadi lagi tahun 2008," harapnya.

Syaykh berharap para petani, minimal petani yang menggarap tanah 600 hektar sawah, sudah tidak berbicara lagi mengenai alam yang tidak ramah. "Yang sesungguhnya alam ini sangat ramah hanya manusia yang tidak menyadari," kata Syaykh.

Maka belajar dari pengalaman itu, Syaykh Panji Gumilang, menegaskan pada tahun 2007 ini Al-Zaytun memfokuskan pembangunan pada pembangunan yang sifatnya infrastruktur. "Pembangunan gedung asrama, pembelajaran dan lainnya belum diprioritaskan, tapi terfokuskan pada pembangunan yang berbentuk infrastruktur pertanian di antaranya infrastuktur air dan pengairan. Maka tahun ini fokus pembangunan di AI-Zaytun membangun yang vertikal berdiri kalau perlu membangun ke bawah, menggali," jelas Syaykh pada Dzikir Jum'at (07/01) sebagaimana dikutip dalam Jurnal Harian Al-Zaytun.

Pembangunan biasanya ditandai dengan pemancangan tiang pancang tapi sekarang membangun infrastuktur ditandai dengan berapa dalamnya simpanan air. "Itu yang sekarang kita bangun. Mudah-mudahan di tahun 2007 tertata sentra-sentra pangan khususnya sentra produksi lahan-lahan yang bisa ditanami. Kita akan konsolidasikan dan kita bangun cekungan-cekungan untuk menampung air ketika musim hujan, sehingga tahun 2008 kita bisa merasakan manfaatnya sehingga lahan yang kita siapkan pertanian tidak lagi menunggu curah hujan yang tidak terkendali," kata Syaykh.

Program ini pun sudah segera direalisasikan dengan membangun Waduk Windu Kencana dan normalisasi kali Cibenoang. Normalisasi Cibenoang dilakukan dengan membangun kanal sepanjang 13 kilometer dengan kedalaman lima meter dan lebar 20 meter ditambah bantaran kiri-kanan sungai masing-masing selebar 20 meter. Kanal itu membentang ke arah hulu dari Waduk Windu Kencana sampai Kampus Al-Zaytun sepanjang 6,5 kilometer dan ke arah hilir hingga menjangkau desa Ranca Ganggang juga sepanjang 6,5 kilometer. Kelak, normalisasi kali ini masih bisa diteruskan hingga sejauh 30 kilometer ke arah muara sungai di pantai utara laut Jawa. Direncanakan, proyek infrastruktur pertanian dan pengairan Windu Kencana, sudah rampung pembangunannya 7 Agustus 2007, untuk kemudian diresmikan tepat pada tanggal 27 Agustus 2007, bertepatan ulang tahun sewindu AI-Zaytun. Itulah pula menjadi latarbelakang proyek ini diberi nama Windu Kencana, merupakan persembahan emas Al-Zaytun kepada bangsa ini.

Di banyak tempat, termasuk di kawasan yang berdekatan dengan Al­Zaytun, musim hujan bisa menjadi bencana. Tetapi di Al-Zaytun, musim hujan selalu disambut sebagai musim panen air, yang didukung dengan teknologi (terapan) dan manajemen pemanfaatan air. Di lembaga pendidikan inilah pertama kali muncul istilah musim panen air dan teknologi panen air (hujan).

Terintegrasi

Pembangunan waduk Windu Kencana dan normalisasi sungai Cibenoang itu, merupakan satu kesatuan dengan teknologi dan manajemen air yang sudah ditata dengan baik di kawasan Kampus Al-Zaytun yang luasnya lebih 1.200 hentar yang dinamai proyek Tirtaraksa Candrakirana Bangsa. Dalam rangka manajemen pemanfaatan air di AI-Zaytun, lirik lagu Bengawan Solo gubahan Gesang Martohartono yang terkenal justru dianggap kontraproduktif. Lirik lagu itu berbunyi di musim hujan air meluap sampai jauh ... air mengalir sampai jauh akhirnya ke laut ......

Di Al-Zaytun, air tidak dibiarkan mengalir begitu saja sampai jauh hingga akhirnya ke laut, tanpa dimanfaatkan terlebih dahulu secara efektif dan efisien. Air dimanfaatkan secara berulang melalui suatu manajemen dan teknologi (proses) terencana yang matang.

Sehingga pada saat musim hujan, yang, di banyak tempat air hujan melimpah menjadi ancaman banjir, justru dikelola sebagai berkah yang melimpah di Al­-Zaytun. Musim hujan bahkan dimaknai sebagai musim panen air.

Maka setiap menjelang musim hujan, semua tempat dan makhluk di Al­Zaytun sudah dipersiapkan menyambut datangnya panen air itu. Selain telah disiapkan banyak resapan air (lumbung air) di setiap tempat dan gedung, juga tanaman terutama pepohonan dipersiapkan dengan menyiangi dahan dan ranting yang dianggap mengganggu pertumbuhannya. Sehingga manakala musim hujan tiba, pepohonan itu ikut panen air untuk pertumbuhannya secara baik dan terencana.

Lalu pada musim kemarau, air yang diserap dan disimpan dapat dikelola secara berulang. Bahkan, jika di tempat lain sudah terjadi kekeringan yang membuat tanaman coati, di Al-Zaytun justru bisa dibuat `banjir buatan' yang membasahi seluruh area kampus dalam waktu tertentu. Hal ini dapat dilakukan dengan melepas (mengalirkan) air dari tempat-tempat penampungan dan resapan (lumbung air) yang telah ditata sedemikian rupa.

Kebutuhan Air Bersih

Al-Zaytun, yang merupakan lembaga pendidikan berasrama (boarding school) di mana seluruh santri, ustadz, eksponen dan karyawannya tinggal secara penuh di dalam kampus, dengan total penghuni mencapai 12.500 jiwa dan akan terns bertambah sekitar 1.500 sampai 2.500 jiwa setiap tahun, tentu membutuhkan air bersih yang cukup banyak. Padahal kampus ini dibangun di atas lahan yang sebelumnya gersang, tadah hujan. Sehubungan dengan itu, sejak mula dikembangkan manajemen dan teknologi pemanfaatan air untuk mengantisipasi kebutuhan air tersebut. Bukan saja untuk keperluan langsung para penghuninya berupa air minum dan air bersih, juga untuk keperluan pertanian dan peternakan serta keperluan pembangunan yang terus berlangsung.

Diprediksikan keperluan air bersih rata-rata setiap penghuni Kampus Al­Zaytun minimal 150 liter per hari ditambah dengan keperluan pembangunan, pertanian dan peternakan, maka keperluan air bersih seluruh penghuni Al-Zaytun beserta a seluruh aktivitasnya mencapai 4 juta liter per hari atau lebih dari 1,2 juta m3 per tahun.

Sehubungan dengan itu, di Al-Zaytun dilakukan penataan air berdasarkan sistem pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Suatu sistem pembangunan yang mampu untuk memenuhi keperluan masa sekarang tanpa membahayakan kemampuan generasi mendatang.

Kampus Al-Zaytun berada di kawasan yang sebelumnya gersang dan tidak memiliki sungai atau mata air alam. Maka pengadaan air bersihnya hingga saat ini masih bergantung pada pengambilan air tanah dengan kedalaman 20 m hingga 100 m. Disadari, bila pemanfaatan air tanah itu berlebihan tentu akan menimbulkan ketidak-seimbangan yang pada akhirnya sampai pada titik irreversible atau kondisi kekurangan permanen yang tak lagi dapat diperbaharui.

Maka untuk mengantisipasinya, ditetapkan solusi yang tepat sejak dalam perencanaan pembangunan kampus ini ini. Syaykh menguraikan beberapa langkah yang dilakukan untuk mengantisipasi kebutuhan air tersebut.

Langkah pertama yang telah dilakukan adalah dengan mengimbangi penggunaan air tanah dengan cara membantu proses alamiah. Ketersediaan air tanah selalu diperbaharui dengan cara melakukan peresapan kembali air permukaan seperti air hujan dari atap bangunan (run off water), air kamar mandi dan air buangan melalui sistem instalasi pengolahan limbah ke dalam tanah dengan membuat beberapa kolam, empang dan waduk penampungan air. Kolam dan empang itu, selain berfungsi sebagai resapan air, juga digunakan sebagai budidaya ikan.

Di Al-Zaytun telah dibangun empat buah kolam resapan yang masing­masing mampu menampung air sebanyak 38.400 meter kubik. Selain itu, dibuat 6o titik suntikan resapan air hujan dengan kedalaman pips resapan hingga mencapai aquafer pertama di lapangan-lapangan dan halaman­-halaman bangunan.

Demikian juga waduk dibangun untuk memanfaatkan kembali buangan air di asrama santri, run off water dan over flow kolam-kolam penampungan sehingga bisa dimanfaatkan kembali sebagai sumber air bagi pertanian. Tentu saja dengan menggunakan sistem penjernihan air alami dengan media saringan dan pemanfaatan tanaman­tanaman air yang mampu mengurai polutan organik di dalam air.

Waduk Istisqo (Shui Shi Cai = Air Sumber Kehidupan) di bagian utara Masjid Rahmatan lil Alamin, seluas 10.441 m3 dan kedalaman 9 meter, mampu menampung air sebanyak 50.000 meter kubik. Jumlah itu cukup untuk mengairi areal pertanian dan perikanan seluas 30 ha. Selanjutnya, direncanakan pembangunan waduk pemanfaatan kembali air buangan untuk keperluan penghuninya bahkan hingga kualitas layak minum.

Langkah kedua adalah meningkatkan efisiensi pemakaian air tanah sebagai sumber air bersih. Di antaranya melalui penggunaan peralatan mandi, seperti shower dengan kepala shower yang dirancang hemat air dan bisa meminimalisasi pemborosan, kebocoran atau air terbuang. Sebab penggunaan air bersih terbesar di Al-Zaytun adalah untuk keperluan sehari-hari penghuninya, diperkirakan mencapai 2.711.500 liter air per hari.

Kepada para santri diingatkan untuk tidak lalai menutup kembali kran air atau shower yang menjadi penyebab utama pemborosan air. Hal ini ditangani oleh Manajemen Asrama dengan memanggil penghuni asrama yang krannya kedapatan terbuka. Mereka diberi teguran, nasihat, dan sanksi agar kejadian tersebut tidak terulang lagi.

Langkah ketiga dengan meminimalkan penggunaan air tanah dengan pemanfaatan kembali air yang sudah terpakai untuk keperluan pertanian dan peternakan, bahkan untuk digunakan kembali oleh penghuni MAZ. Untuk menyiram tanaman, sebagian besar menggunakan air dari kolam-kolam penampungan dengan menggunakan jasa mobil tangki. Begitu pula pembersihan sapi dan kandang, kecuali untuk pembersihan sapi perch, digunakan air dari kolam tampungan hujan atau air hasil olahan air limbah dengan sekecil mungkin menggunakan air tanah.

Pengolahan Air Limbah

Air limbah yang berasal dari limbah asrama dan gedung pembelajaran merupakan salah satu sumber pencemaran air yang sangat potensial. Karena air limbah ini mengandung senyawa-senyawa organik yang cukup tinggi. Selain itu, kemungkinan besar mengandung senyawa-senyawa lain serta mikroorganisme patogen yang dapat menyebabkan penyakit. Maka dalam hal studi pengelolaan lingkungan di Al-Zaytun khususnya sistem pengolahan limbah dijalin kerja sama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Air limbah toilet dan sebagian air buangan kamar mandi diolah pada pengolahan air limbah yang dibangun di setiap asrama dan gedung pembelajaran dengan sistem biofilter aerob-anaerob yakni proses pengolahan limbah biologis dengan menggunakan mikroorganisme baik mikroorganisme aerob (dengan udara) rnaupun mikroorganisme anaerob (tanpa udara). Proses biologis aerobik biasanya digunakan untuk pengolahan air limbah dengan beban BOD yang tidak terlalu besar, sedangkan proses biologis anaerobik digunakan untuk pengolahan air limbah dengan beban BOD (zat organik) yang sangat tinggi.

Syaykh Al-Zaytun menjelaskan, keduanya dibiakkan pada suatu media yang disebut `sarang tawon' sehingga mikro organisme tersebut melekat pada permukaan media. Pengolahan limbah dengan metode ini mampu mengurai polutan organik hingga 90-95 persen. Juga mampu menurunkan konsentrasi BOD di dalam air limbah hingga 20-30 mg per liter dan konsentrasi Solid Solution (SS) hingga 20 mg per liter pada sisi keluarnya.

Lebih rinci dijelaskan proses pengolahan air limbah tersebut sebagai berikut, "Air limpasan dari tangki septik dan air limbah nontoilet dialirkan melalui satu saluran, selanjutnya dialirkan melalui saringan kasar (bar screen) untuk menyaring sampah yang berukuran besar seperti sampah dawn, kertas, plastik, dan lain-lain. Setelah melalui screen, air limbah dialirkan ke bak pemisah pasir (grit chamber) yang berfungsi untuk mengendapkan kotoran pasir, tanah, atau senyawa padatan yang tak dapat terurai secara biologis misalnya abu gosok, padatan pembersih kamar mandi dan lain-lain.

Setelah melalui grit bak pemisah pasir, air limbah dialirkan ke bak pengendap awal untuk mengendapkan partikel lumpur, pasir dan kotoran organik tersuspensi. Selain sebagai bak pengendapan, juga berfungsi bak pengontrol aliran, serta bak pengurai senyawa organik yang berbentuk padatan, sludge digestion (pengurai lumpur) dan penampung lumpur. Air limpasan dari bak pengendap awal selanjutnya dialirkan ke bak kontaktor anaerob dengan arah aliran dari atas ke bawah, dan dari bawah ke atas. Di dalam bak kontaktor anaerob tersebut diisi dengan media dari bahan plastik tipe sarang tawon.

Jumlah bak kontaktor anaerob terdiri dari dua buah ruangan. Penguraian zat‑zat organik yang ada dalam air limbah dilakukan oleh bakteri anaerobik atau facultatif aerobik.Setelah beberapa hari operasi, pada permukaan media filter akan tumbuh lapisan film mikroorganisme. Mikroorganisme inilah yang akan menguraikan zat organik yang belum sempat terurai pada bak pengendap.

Air limpasan dari bak kontaktor anaerob dialirkan ke bak kontaktor aerob. Di dalam bak kontaktor aerob ini diisi dengan media dari bahan kerikil, plastik tipe sarang tawon, sambil diaerasi atau dihembus dengan udara sehingga mikroorganisme yang ada akan menguraikan zat organik yang ada dalam air limbah serta tumbuh dan menempel pada permukaan media.

Dengan demikian air limbah akan kontak dengan mikroorganisme, yang tersuspensi dalam air maupun yang menempel pada permukaan media yang mana hal tersebut dapat meningkatkan efisiensi penguraian zat organik, deterjen serta mempercepat proses nitrifikasi, sehingga efisiensi penghilangan amonia menjadi lebih besar. Proses ini Bering dinamakan aerasi kontak (contact aeration).

Dari bak aerasi, air dialirkan ke bak pengendap akhir. Di dalam bak ini lumpur aktif yang mengandung massa mikroorganisme diendapkan dan dipompa kembali ke bagian inlet bak aerasi dengan pompa sirkulasi lumpur.

sedangkan air limpasan (overflow) dialirkan ke bak khlorinasi. Di dalam bak kontaktor khlor ini air limbah dikontakkan dengan senyawa khlor untuk membunuh mikroorganisme patogen. Air olahan, yakni air yang keluar setelah proses khlorinasi dapat langsung dibuang ke sungai atau saluran umum. Dengan kombinasi proses anaerob dan aerob tersebut selain dapat menurunkan zat organik (BOD, COD), ammonia, deterjen, padatan tersuspensi (SS), phospat dan lainnya.

Namun karena sebagian air limbah tidak melalui instalasi pengolahan limbah sehingga masih mengandung deterjen dari sabun maka dari saluran drainase limbah itu diarahkan ke kolam penampungan. Proses penjernihan air limbah tersebut selain mengandalkan panjangnya saluran drainase sehingga memungkinkan terjadinya singgungan dengan udara dan lumut-lumut saluran, pada kolam penampungan juga mengalami proses penjernihan dengan menggunakan bak-bak penjernih (clarifer).

Dari clarifer tersebut selanjutnya dibuat saluran mengelilingi kolam untuk kemudian dialirkan kembali ke dalam kolam melalui saluran berteras. Saluran berteras ini bermanfaat untuk menambah kadar oksigen. Di samping itu untuk memperkaya kadar oksigennya, kolam penampungan juga diberi fasilitas air mancur.

Sementara itu untuk pengolahan limbah kotoran ternak, dilakukan pemisahan antara limbah padat dan limbah cair pada bak penampungan kotoran. Selanjutnya limbah padat diolah menjadi pupuk kandang, sedangkan limbah cair dialirkan melalui drainase menuju kolam-kolam ikan.

"Apa yang telah dilakukan Al-Zaytun tadi, semuanya merupakan wujud dari prinsip kehati-hatian dalam tata atur air bersih. Juga sebagai suatu bentuk usaha pencegahan (precautionary principle) terhadap kemungkinan terjadinya kondisi irreversible. Tak berhenti sampai di sana, Al-Zaytun akan terus mengembangkan berbagai upaya untuk memperbaiki tata atur air bersih itu," kata Trista Nugraha menimpali Syaykh Al-Zaytun.

Air Minum Sihat

Pengasuh Al-Zaytun juga sangat memperhatikan ketersediaan air minum sihat bagi para santri dan segenap penghuni dan pengunjungnya. Untuk keperluan air minum sihat yang memenuhi persyaratan fisis, kimia dan biologi, dilakukan dengan menggunakan sistem pengolahan air minum dengan teknologi Ozon dan Sterilisasi Ultra Violet (UV sterilization) serta teknologi Reverse Osmosis.

Teknologi Ozon dan Sterilisasi Ultraviolet tersebut masing-masing berkapasitas 25 m3 per hari untuk keperluan rumah makan santri dan rumah makan karyawan. Sementara teknologi Reverse Osmosis dengan kapasitas masing-masing 5o galon/hari (190 liter per hari), dipasang di satu unit di setiap kamar santri.

Ketiga teknologi tersebut dapat memenuhi hajat air minum puluhan ribu penghuni kampus yang memenuhi persyaratan (1) secara fisik harus jernih (tidak berwarna, tidak berbau, tidak keruh dan tidak berasa); (2) dari segi komposisi kimia, air tidak boleh mengandung zat-zatyang dapat merugikan kesihatan, seperti limbah pestisida, limbah detergen, nitrat, atau logam-logam berat; dan (3) secara biologis, air tidak boleh mengandung bakteri-bakteri patogen yang berbahaya bagi kesihatan manusia.

Penggunaan ozon dalam proses pengolah air dipilih, menurut Trista Nugraha, karena beberapa keuntungan yang diperolehnya. selain mampu membunuh mikroorganisme yang terdapat di dalam air karena ozon bersifat bakterisida, algasida dan fungisida, teknik itu juga tidak menimbulkan bau dan rasa yang pada umumnya terjadi jika kita menggunakan bahan kimia pengolah air. Bahkan, teknik ini dapat menghilangkan bau dan rasa yang biasanya disebabkan oleh komponen organik dan anorganik yang terdapat di dalam air.

Pasca survei dan uji fisika, kimia dan biologi di Laboratorium Teknik Lingkungan, kualitas air minum di rumah makan santri dan rumah makan karyawan yang menggunakan teknologi ozon dan UV Sterilization dinyatakan memenuhi standar kualitas air minum yang merujuk kepada standar Departemen Kesehatan. (Sumber Berita Indonesia – Edisi 38/2007)
Bacaan Selanjutnya!

Friday, May 04, 2007

Al-Zaytun – Ditjen PLS Lakukan Pelatihan Sertifikasi ICDL

Kerjasama yang sinergis antara Al-Zaytun dengan Direktorat Jendral Pendidikan Luar Sekolah (Ditjen PLS), Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), semakin erat untuk mencerdaskan bangsa.

Syaykh Abdussalam Panji Gumilang pimpinan Kampus Al-Zaytun, sebagai pelopor pendidikan sistem satu pipa, ingin sekali mendarma-baktikan seluruh aset dan sumber daya manusia yang dimiliki dipersembahkan kepada bangsa dan negara, serta masyarakat luas secara keseluruhan.

Demikian pula Direktur Jenderal Pendidikan Luar Sekolah, Depdiknas Ace Suryadi, yang dikenal berhasil dalam mengangkat citra pendidikan non formal di jagad pendidikan nasional, ingin pula melibatkan partisipasi aktif seluruh lapisan masyarakat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Keduannya sepakat untuk membangun kerjasama yang sinergis dalam berbagai hal.

Salah satunya, Al-Zaytun sebagai pusat pendidikan terpadu, terletak di Kampung Sandrem, Kecamatan Gantar, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, pada 12-18 Maret 2007 lalu dipercaya melaksanakan pelatihan sertifikasi ICDL (International Computer Driving Licence), kepada 39 pegawai negeri sipil (PNS) yang berdinas di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Daerah, Pendidikan Luar Sekolah.

Peserta berasal dari 17 daerah di Seluruh Indonesia. Acaranya disebut “Pelatihan Sertifikasi ICDL Bagi Para Pegawai Unit Pelaksana Teknis Pendidikan Luar Sekolah Se-Indonesia“.

Dengan mengikuti pelatihan, peserta diharapkan memiliki sertifikat untuk melatih orang lain supaya dapat menguasai (literasi) penggunaan komputer.

Materi pelatihan ICDL terdiri tujuh modul, yaitu : Module 1 Concepts of Information Technology (IT); Module 2 Using the Computer and Managing Files; Module 3 Word Processing; Module 4 Spreadsheets; Module 5 Datebase; Module 6 Presentation; dan Module 7 Information and Communication.

Peserta terdiri dari 28 laki-laki dan 11 perempuan. Mereka memilki latar belakang pendidikan yang beragam. Enam orang lulusan setingkat SLTA, 27 orang lulusan setingkat sarjana atau S-1, dan enam orang lulusan setingkat master atau S-2.

Mereka mewakili sejumlah UPT Daerah, seperti Sanggar Kegiatan Bersama (SKB), Balai Pengembangan Kegiatan Belajar Masyarakat (BPKBM), Balai Pengembangan Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda (BPPLSP), Balai Pengembangan dan Pelatihan Pendidikan Luar Sekolah (BPPPLS), serta Balai Teknologi Komunikasi Pendidikan dan Pengembangan Kegiatan Belajar (BTKPPKB).

Untuk setiap modul, materi pelatihan diberikan oleh dua orang instruktur, dibantu empat orang asisten, sehingga total terdapat 14 orang instruktur dan 28 orang asisten.

Di akhir pelatihan, pada tanggal 17-18 Maret diadakan ujian dan 38 orang dinyatakan lulus menyelesaikan pelatihan dengan hasil baik. Sedangkan seorang peserta, berasal dari BPKB Daerah Istimewa Yogyakarta yakni Nugroho Tyas, dinyatakan belum menyelesaikan seluruh modul.

Rekapitulasi hasil ujian menunjukkan, nilai rata-rata Modul 1 adalah 90,32; Module 2 = 91,66; Modul 3 = 92,58; Module 4 = 93,92; Module 5 = 92,66; Module 6 = 89,87; dan Module 7 = 93,13.

Tentang ICDL

Para instruktur dan asisten pelatihan, sehari-hari bekerja sebagai pengajar di ICDL AL-Zaytun Global Information and Communication Technology (ICDL-AGICT).

ICDL-AGICT didirikan tahun 2002. Pada 3 Januari 2003 ICDL-AGICT berhasil mendapatkan akreditasi dari kantor pusat ICDL, di London, Inggris sebgai test centre yang pertama untuk seluruh kawasan Indonesia.

Pada bulan Desember 2006 ICDL Licensee in Indonesia, atau ICDL-AGICT, sebagai perpanjangan tangan kantor pusat ICDL di Indonesia, berhasil membangun kesepakatan kerjasama dengan Direktorat Jendral Pendidikan Luar Sekolah, Depdiknas, untuk memberikan pelatihan-pelatihan penguasaan komputer, kepada unit-unit pelaksana teknis daerah pendidikan non formal.

Dengan akreditasi yang dimiliki itulah, ICDL-AGICT berhak merekrut peserta, melakukan pelatihan menggunakan silabus dan kurikulum dari ICDL, serta melaksanakan serangkaian tes kepada peserta pelatihan untuk mendapatkan sertifikasi ICDL.

Termasuk, pada bulan Maret 2007 tadi, Al-Zaytun melakukan pelatihan sertifikasi ICDL, bagi para pegawai unit pelaksana teknis pendidikan luar sekolah se-Indonesia.

Dirjen Pendidikan Luar Sekolah Ace Suryadi mengatakan, pilihan atas ICDL sebagai lembaga akreditasi / sertifikasi literasi kompter di lingkungan Ditjen PLS, Depdiknas, didasarkan pada pertimbangan ICDL, merupakan lembaga independen yang telah diakui secara luas oleh banyak negara dan berbagai organisasi internasional seperti UNESCO, UNDP, dan Uni Eropa.

ICDL, diakui sebagai benchmark internasional untuk keterampilan komputer, sama persis halnya dengan TOEFL untuk pelatihan bahasa Inggris.

Kata Ace, literasi komputer merupakan salah satu strategi dalam menghadapi tantangan globalisasi, dengan menyiapkan program Pendidikan Kecakapan Hidup (life Skills) di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).

Kebijakan literasi komputer dimaksudkan untuk mendorong masyarakat mengenal, memahami, dan mampu menggunakan komputer atau TIK baik itu untuk keperluan yang berkaitan dengan pekerjaan, maupun pembelajaran dan aktivitas lainnya.

Caranya, mengembangkan semua lembaga UPT/Daerah Pendidikan Nonformal menjadi lembaga ICDL, Test Center, selanjutnya meningkat menjadi ICDL Training Center.

Kehadiran ICDL di Indonesia diwakili oleh MYR Agung Sidayu, dari Yayasan Pesantren Indonesia (YPI), duduk sebagai Chariman of the ICDL Licensee in Indonesia. Sedangkan Chris Evdemon duduk sebagai Chief Executive Officer (CEO) ICDL Asia Pasific.

Menurut Chris, ICDL adalah standar global yang memberikan sertifikasi untuk mengukur kompetensi pengguna komputer, dan dapat juga meningkatkan produktivitas kerja.

“ICDL adalah salah satu implementasi kebijakan literasi komputer. ICDL, adalah kualifikasi/sertifikasi yang berstandar internasional untuk kompetensi kemampuan komputer,“ ujar Chris, ketika datang ke Indonesia, menyaksikan Mendiknas Bambang Sudibyo menyerahkan sertifkat Approved Test Center (ATC) ICDL, kepada 71 UPT / Daerah Pendidikan Nonformal di Jakarta, pada 11 Desember 2006.

Sebelumnya, secara simbolis, Mendiknas menerima sertifikat dari Joh Chapman, pimpinan tertinggi ICDL seluruh dunia. Mendiknas mengatakan, sistem ICDL mendorong minat masyarakat untuk memahami dan memanfaatkan TIK.

“Pemerintah bertekad untuk mewujudkan computer / digital literacy pada masyarakat,“ kata Bambang Sudibyo. Bambang yang sudah beberapa kali mengunjungi kampus Al-Zaytun, pertama kali saat meresmikan pengoperasian Universitas Al-Zaytun (UAZ) Indonesian pada Agustus 2005, juga mengatakan, program literasi komputer akan disinergikan dengan pendidikan keaksaraan dan kesetaraan, atau pendidikan formal sepertipendidikan kejuruan dan umum.

Karena itu, menurut Bambang, perlu dilakukan kampanye, advokasi, dan promosi literasi komputer pada sasaran yang lebih luas. “Kalangan pendidikan pesantren, pendidikan formal maupun lembaga pendidikan pelatihan pada umumnya, baik negeri maupun swasta harus menjadi bagian dari program literasi komputer,“ kata Bambang.

Dirjen PLS Ace Suryadi menambahkan, ke depan, lembaga-lembaga penerima sertifikat ATC ICDL akan dikembangkan menjadi training center. “Kami akan menerapkan sistem, mekanisme, dan sarana yang memenuhi standar ICDL untuk penjaminan dan pengendalian mutu,“ ucapnya.
(Sumber :Lentera - Majalah Berita Indonesia – Edisi 37/2007)
Bacaan Selanjutnya!

Al-Zaytun Kampus Global

Kampus Al-Zaytun sejak didirikan didesain sebaagi pusat pengembangan teknologi informasi. Sejak awal kampus Al-Zaytun telah memberikan perhatian khusus pada pendidikan berorientasi teknologi informasi. Apalagi setelah berdirinya Fakultas Teknologi Informasi Universitas Al-Zaytun Indonesia pada bulan Agustus 2005, kampus Al-Zaytun berubah wajah menjadi kampus global yang mengedepankan pengembangan teknologi informasi.

Kampus dalam era globalisasi dimaknai dengan kehadiran teknologi informasi dan komunikasi (Information and Communication Technology – ICT). Teknologi inilah yang telah membuat kehidupan kampus berada dalam sebuah tatanan lintas batas, baik batas ruang, jarak maupun waktu.

Dari sudut pandang teknologi informasi, nyaris tiada lagi batas negara, bahkan tiada lagi batas agama. Semua tertata menjadi sebuah masyarakat pendidikan yang terikat pada informasi dan komunikasi tanpa batas.

Sungguh, era ini adalah era informasi yang terjadi sebagai akibat perkembangan teknologi komputer yang menjadi inti dari teknologi informasi dan komunikasi (ICT). Komputer bukan lagi sekadar alat bantu dalam pengolahan data menjadi informasi saja. Melainkan, telah dan akan terus berintegrasi dengan teknologi komunikasi modern, menjadi sebuah alat komunikasi canggih yang memungkinkan interaksi dan integrasi seluruh civitas akademika di berbagai belahan dunia.

ICT mencakup seluruh aspek kehidupan, bahkan yang terutama aspek pendidikan (ilmu pengetahuan dan teknologi). Maka, sebagai pusat pendidikan ber-setting internasional, sejak awal didirikan Kampus Al-Zaytun telah menerapkan computer-based education system (CBES) dalam menjalankan dan menunjang fungsi dan kegiatan pendidikannya. Mulai dari administrasi pendidikan, materi pembelajaran, metode penyampaian hingga evaluasi pencapaian hasil-hasil pendidikannya.

Metode pembelajaran yang berbasis kompetensi menggunakan e-learning dirintis sejak dini untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi sumber daya yang ada. Disadari, materi pembelajaran menggunakan e-book menjadi pilihan utama pada pendidik dalam menuangkan poin-poin kurikulum yang mampu menghemat penggunaan kertas (paperless) serta biaya cetak yang sangat tinggi, dan ini berarti efisiensi yang sangat signifikan untuk institusi sebesar Al-Zaytun.

Evaluasi pencapaian hasil pendidikan pun cukup disajikan dalam bentuk sistem informasi pendidikan berbasis komputer on-line, yang mampu memantau, mencatat, menyimpulkan dan memberikan rekomendasi serta dukungan (decision support) kepada para pengambil keputusan (decision maker). Mereka cukup menghubungkan diri dengan akses ke komputer.

Bahkan, yang sudah dikembangkan oleh Universitas Al-Zaytun (UAZ) Indonesia bukan sekadar information technology (IT) saja. Melainkan global information and communication technology (GICT). Diperkirakan pada era GICT ini, volume dan aliran data akan mengalir begitu besar, sehingga harus ditangani dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi, mulai dari administrasi nilai, administrasi mata kuliah, hingga administrasi jadwal kuliah.

Langkah Awal AGICT

Dalam rangka pengembangan ICT di Kampus Al-Zaytun, sekaligus untuk memberikan bekal kemampuan teknologi informasi standar bagi santri dan calon mahasiswa, pada tahun 2002 didirikanlah lembaga kursus yang diakui keberadaannya oleh dunia internasional, yang diberi nama AGICT (Al-Zaytun Global Information and Communication Technology). Lembaga kursus AGICT ini bekerja sama dengan ICDL (International Computer Driving Licensee) yang berkedudukan di Inggris.

Kemudian, pada 3 Januari 2003, AGICT berhasil mendapatkan akreditasi ICDL sebagai test center yang pertama di seluruh kawasan Indonesia. Akreditasi test center ini diperoleh setelah melalui proses audit ketat berstandar internasional dari ICDL. Dengan akreditasi yang telah dimiliki, AGICT sebagai pelaksana program pendidikan komputer di Al-Zaytun berhak merekrut peserta, melakukan pelatihan menggunakan silabus dan kurikulum dari ICDL, serta melaksanakan serangkaian tes kepada peserta didiknya untuk mendapatkan sertifikat ICDL.

Pada saat pertama kali dimulai program AGICT didukung dengan 154 komputer PC, 5 server, dan 32 UPS. Peserta kursus terbuka bagi semua santri kelas IV dan kelas V yang mendaftarkan diri. Khusus untuk angkatan pertama, jumlah pesertanya langsung membludak mencapai 1.158 orang terdiri dari 454 nisa dan 404 rijal, dibagi dalam beberapa kelompok. Seluruh pembiayaan kursus ditanggung masing-masing santri.

Sementara instrukturnya berjumlah 16 orang dibantu 52 orang asisten, semuanya berpengalaman di bidang teknologi informasi dan komputer dan bersertifikat ICDL. Setiap sesi dibimbing oleh dua instruktur dan 13 asisten. Setiap kelompok mengikuti pelajaran komputer tiga kali dalam sepekan selama sembilan bulan untuk 3 level yakni Basic, Intermediate, dan Advance. Setiap pertemuan berlangsung selama 90 menit.

Peserta kursus memperoleh berbagai fasilitas seperti laboratorium komputer yang terhubung dengan LAN dan spesifikasi komputer terbaik dengan aplikasi terkini untuk setiap orang, ruangan kelas ekslusif ber-AC dilengkapi dengan sound system serta projector, skills card untuk melaksanakan tes ICDL dan mendapat sertifikat ICDL yang bertaraf internasional.

Materi yang diberikan adalah sesuai dengan kurikulum internasional ICDL, yang meliputi : a) Konsep Dasar Teknologi Informasi, b) Penggunaan Komputer dan Manajemen File, C0 Word Processing, d) Spreadsheet (pengolahan tabel), e) Database, f) Presentasi, dan g) Informasi dan Komunikasi.

Karena Program AGICT awalnya merupakan program pendidikan di Kampus Al-Zaytun, maka penanggung jawabnya dijabat oleh Ketua Dewan Guru Al-Zaytun. Sedangkan Penanggung Jawab Pelaksana diamanatkan kepada Ust. Ir. Aan Kurniawan. Dalam struktur AGICT, terdapat pula beberapa departemen yang emmbantu tugas Penanggung Jawab Pelaksana, antara lain : Departemen Administrasi, Departemen Kurikulum, Departemen Operasional, Departemen HRD, Departemen Marketing dan PR, serta Departemen Technical Support.

Program Pendidikan komputer AGICT dilaksanakan di Laboratorium Komputer AGICT yang bertempat di ruang basement selatan gedung Utsman Ibnu Affan. Ruang berukuran 36 x 12 m ini menampung 150 unit komputer untuk siswa dan 2 unit komputer untuk instruktur. Untuk menunjang proses pembelajaran, laboratorium dilengkapi dengan perangkat sound system, tiga proyektor dan empat AC berkekuatan 6 pk.

Menurut Ust. Ir. Aan Kurniawan, setiap komputer dirancang dengan spesifikasi terbaik untuk ukuran saat ini dengan menggunakan prosesor terbaru keluaran intel, lengakap dengan fasilitas multimedianya seperti sound card, CD ROM drive dan headset plus micro-phone. Seluruhnya terhubung dengan jaringan LAN (Local Area Network) Ethernet berkecepatan 100 Mpbs (Fast Ethernet) dan menggunakan sembilan switch produk CISCO (1 unit Catalyst 3550-SMI dan 8 unit Catalyst 2950) yang dipesan langsung dari Malaysia.

Semua data dan kontrol dipusatkan pada server farm yang terdiri dari lima server dengan spesifikasi Intel Xeon Dual Processor 2 GHz dengan kapasitas total lebih dari 800 GB. Koneksi server ke jaringan menggunakan teknologi Gigabit Ethernet (1 Gbps). Sistem operasi yang digunakan untuk komputer client adalah Windows 2000 Advanced Server. Kemampuan server dan jaringan yang ada dipersiapkan untuk memberikan layanan multimedia dalam proses pembelajaran komputer.

Keseluruhan proses instalasi, baik jaringan (instalasi kabel, setting konfigurasi domain), dilakukan sendiri oleh tenaga-tenaga intern Al-Zaytun tanpa bantuan konsultan luar.

Meja komputer yang digunakan pun didesain dan diproduksi khusus oleh unit Meubeleur Al-Zaytun dengan memperhatikan kriteria ergonomik. Berbeda dengan kebanyakan tempat-tempat kursus lainnya, meja hasil desain Al-Zaytun ini menempatkan posisi monitor komputer di bawah permukaan meja dengan beberapa keuntungan. Pertama, sudut pandang ke monitaor yang dibuat sama dengan sudut pandang saat membaca buku. Desain seperti ini membuat pemakai merasa nyaman menggunakan komputer dalam jangka waktu lama.

Kedua, jarak pandang mata ke layar monitor selalu terjaga karena posisinya yang berada di bawah dan dihalangi oleh kaca pada permukaan meja. Biasanya, kata Ust. Ir. Aan Kurniawan, tatkala kita menggunakan komputer dalam jangka waktu cukup lama, tanpa terasa posisi mata semain lama semakin mendekati monitor, apalagi jika pekerjaan itu menuntut hal-hal detail, seperti membuat rancang bangun, programming, atau desain grafis. Jika tidak dicegah, hal itu bisa merusak mata. Radiasi monitor diserap oleh kaca sehingga tidak akan mengganggu mata.

Di samping itu, melalui Program AGICT akan tercakup empat aspek pengembangan teknologi informasi yakni Infrastructure, E-Learning, Web Development dan Information System. Sehingga di masa mendatang, seluruh civitas akademika Kampus Al-Zaytun akan mampu memahami dan menggunakan komputer secara lebih berkompeten. Kompetensi ICT itu tentunya sepandan dengan visi Al-Zaytun yang hendak membangun sebuah komunitas kampus global science and technology society. Dengan demikian, akan tercipta sinergi, efektivitas, efisiensi manajemen serta efisiensi sumber daya dan waktu.

Program pendidikan komputer AGICT merupakan langkah awal untuk mencapai komunitas kampus global science and technology society itu. Para santri peserta program AGICT akan menjadi pelaku perubahan (reformer) yang akan menata Kampus Al-Zaytun menuju masyarakat sains dan teknologi.

Menjadi Fakultas Teknologi Informasi

Program pendidikan komputer AGICT, yang telah meluluskan 2.713 orang siswa, sebagai cikal bakal menuju kampus global berspiritkan science and technology society, akhirnya memperoleh momentum pada bulan Agustus 2005 dengan berdirinya Faktultas Teknologi Informasi Universitas Al-Zaytun Indonesia.

Ketika didirikan, Fakultas Teknologi Informasi UAZ Indonesia memiliki 294 unit komputer, tersebar di seluruh lingkungan Kampus Al-Zaytun, semua terakses online kepada internet. Untuk akses pada internet ini digunakan antene parabola VSAT (Very Small Aperture Terminal), dengan kapasitas bandwith 512 KPBS (Kilo Bit Per Second). Sedangkan infrastruktur jaringan antar komputer digunakan teknologi fiber optic. Kemudian komputer juga dilengkapi dengan 11 pusat penyimpanan data (server).

Tak mengherankan apabila, walau baru saja berdiri, Fakultas TI UAZ Indonesia sudah merintis berbagai kerjasama dengan beberapa lembaga sertifikasi dan institusi pendidikan luar negeri, sperti dengan ECS (Educational Counseling Service). Kerja sama tersebut, antara lain, melanjutkan program sertifikasi ICDL (International Computer Driving License), dan program akademik Teknologi Informasi dari NCC (National Computing Centre) Ecucation, yang berkantor pusat di London. Program ini dilaksanakan secara online kepada kantor pusat masing-masing.
(Sumber :Lentera - Majalah Berita Indonesia – Edisi 37/2007)
Bacaan Selanjutnya!

Wednesday, April 18, 2007

Waduk Windu Kencana

Persembahan Emas Sewindu Al-Zaytun

Al-Zaytun saat ini sedang bekerja keras siang-malam 24 jam sehari menyelesaikan proyek pembangunan Waduk Windu Kencana, supaya siap dipersembahkan sebagai persembahan emas kepada bangsa Indunesia menandai sewindu Al-Zaytun berkiprah memajukan dunia pendidikan terpadu.

Di hadapan Wakil Presiden Jusuf Kalla, yang secara khusus berkunjung ke Kampus Al-Zaytun untuk merayakan Tahun Baru Hijriyah 1 Muharam 1428H pada 20 Januari 2007 lalu, Syaykh Abdussalam Panji Gumilang secara singkat menyampaikan kilas balik sejarah Al-Zaytun, sejak masih dalam tataran wacana, kemudian memulai operasional pendidikan pada 1 juli 1999, hingga sudah melangkah sangat jauh di awal tahun 2007.

Mendengar laporan bernada spektakuler itu, dalam pidato balasannya, Wapres Jusuf Kalla lantas menyebutkan kalau Al-Zaytun telah berhasil memelopori perubahan atas citra pondok pesantren. Kalla menyebutkan kepeloporan Al-Zaytun terletak pada perubahan citra baru tentang pondok pesantren, dari yang sebelumnya kumuh, kotor, dan sempit, berubah menjadi teratur, lebih baik, lebih maju bahkan terlihat mewah.

Lalu, hanya berselang beberapa bulan kemudian, sebuah mimpi yang belum sempat masuk dalam laporan Syaykh, dan tentu saja menjadi luput pula dari pidato balasan Kalla, muncul.

Yakni proyek Waduk Windu Kencana, yang akan menjadi persembahan emas, sekaligus pertanda telah delapan tahun kiprah Al-Zaytun membangun pusat pendidikan terpadu yang modern dan komprehensif, kiprah untuk menjadi Indonesia yang kuat.

Kehadiran Waduk Windu Kencana akan melengkapi teknologi panen air, dan manajemen pemanfaatan air secara efektif, yang selama beberapa tahun terakhir sudah dijalankan oleh Al-Zaytun.

Filosofi teknologi panen air, dan manajemen pemanfaatan air secara efektif, adalah dengan memperlakukan air sebagai sesuatu yang sangat bernilai, serta memanfaatkannya secara bijak dan terjaga dari pencemaran.

Manajemen pemanfaatan air secara efektif membuat air di sekitar kampus Al-Zaytun benar-benar di kelola sebagai unsur utama bagi kehidupan: dipanen, disimpan dalam “lumbung air“ dan dimanfaatkan secara berulang.

Waduk Windu Kencana, karena dipersembahkan kepada bangsa, pemanfaatannya akan bersama-sama dengan masyarakat sekitar. Lokasinya terletak 6,5 kilometer dari kampus Al-Zaytun, menyusuri aliran sungai Cibanoang, yang terletak di belakang kampus hingga ke arah gunung.

Waduk didirikan di tengah-tengah areal perbukitan seluas 125 hektar milik Al-Zaytun, yang akan segera disulap menjadi sebuah kawasan pertanian terpadu dan hutan tanaman industri. Sedangkan desain sungai Cibanoang, itu akan diperlebar hingga mencapai 20 meter dan kedalaman lima meter, sehingga antara dua titik di kampus dengan di waduk kelak akan bisa ditempuh dengan menggunakan sarana transportasi perahu atau speedboat.

Di bagian samping kiri-kanan sungai, akan diperlebar masing-masing 20 meter, juga sepanjang 6,5 kilometer. Di area pelebaran ini akan dimanfaatkan sebagai lokasi tanaman rumput hijau untuk menghasilkan rumput makanan sapi. Atau, menanam kacang tanah, atau jagung muda makanan sapi.

Waduk Windu Kencana memiliki dimensi lebar 100 meter, panjang 1.300 meter, dan kedalaman rata-rata 5 meter. Jika aliran sungai sudah dibendung siapapun akan bisa leluasa berenang dari ujung ke ujung sejauh 6,5 kilometer, atau berpesiar dengan naik perahu.

Bangun Pertanian Terpadu

Dengan demikian teknologi panen air Al-Zaytun akan menhasilkan pengendalian air dalam jumlah besar. Pertama, air di Waduk Windu Kencana. Sesuai dimensinya, Waduk Windu Kencana akan mampu menampung air sebanyak 100 m x 1.300 m x 5 m, atau sama dengan 650.000 meter kubik air.

Kemudian, yang kedua, air di sepanjang sungai Cibanoang, sebanyak 6.500 m x 20 m x 5 m, atau sama dengan 650.000 meter kubik. Sehingga total air yang dapat dikendalikan Al-Zaytun akan mencapai 1.300.000 meter kubik.

Saat wartawan Berita Indonesia meninjau langsung pelaksanaan proyek pembangunan Waduk Windu Kencana, Minggu, (25/03/2007) bersama-sama dengan rombongan Pengurus Pusat (PP) Asosiasi Peternak Sapi Perah Indonesia (APSPI), para pekerja terlihat sibuk bekerja keras membangun tanggul-tanggul dan outlet waduk.

Para pekerja bekerja siang malam dalam tiga shift, dibantu empat unit alat berat excavator dan satu unit doser, kelimanya baru saja dibeli dengan harga tunai masing-masing seharga 100.000 dollar AS. Selain itu, ditambah lagi empat unit alat berat usia 10 tahun tetapi sudah direkondisi.

Syaykh terjun langsung memimpin proyek pengerjaan Waduk Windu Kencana, termasuk meluangkan waktu paling tidak dua jam sehari usai sholat Ashar, atau pada pagi-pagi hari sekali pada jam lima sudah berada di lokasi proyek untuk menyemangati pekerja, sekaligus memastikan semua pengerjaan berjalan dengan lancar.

Pekerja mengerjakan proyek 24 jam sehari. “Ada tiga shift. Kalau pakai istirahat malamnya, sudah pasti (bekerja) besoknya. Jadi tidak pilih kasih. Terus ditempa saja. Mumpung panas, harus ditempa terus, jadi 24 jam,“ kata Syaykh.

Diharapkan, proyek Waduk Windu Kencana sudah akan selesai pada bulan Mei, untuk dapat segera difungsikan menampung air. Sehingga, pada tanggal 1 Juli saat peringatan Al-Zaytun memulakan operasional pendidikan, atau paling lama pada 29 Agustus peringatan peresmian pengoperasian AL-Zaytun oleh Presiden Prof. BJ Habibie, Al-Zaytun sudah dapat mendeklarasikan persembahan Waduk Windu Kencana kepada bangsa Indonesia.

Waduk akan memenuhi kebutuhan air lahan-lahan pertanian Al-Zaytun yang luasnya mencapai 1.200 hektar, dan lahan pertanian milik masyarakat sekitar. Lokasi sekitar Waduk Windu Kencana akan dijadikan pula sebagai pusat agrobisnis, atau lahan pertanian terpadu (integrated farming) yang memadukan pertanian, perternakan, perikanan, kehutanan, hingga wisata.

Pertanian, misalnya, selain mengerjakan pertanian dengan bibit padi konvensional, Al-Zaytun akan mulai menanami bibit varietas terbaru basmati. Bibit ini sudah memasuki pengembangan fase ketiga.

Bibit padi basmati memiliki produktifitas 2,5 hingga 3 ton saja perhektarnya. Basmati memiliki kualitas dan harga pasar yang jauh lebih tinggi di atas beras lain, rojolele, misalnya. Usianya pun tak terlalu lama hanya 100 hari.

Basmati sangat cocok bila ditanam di musim agak panas mengingat batangnya yang tidak terlalu kokoh, karena kekurang-kokohan ini pula, hingga bisa membuat padi rebah bila ditiup angin, bibit basmati tak perlu mengandalkan pupuk kimia buatan pabrik dari Gresik atau Sriwijaya. Tetapi lebih mengandalkan pupuk alami, seperti berasal dari kotoran dan air kencing sapi. Namanya pupuk Unfren, atau singkatan dari urine permentasi yagn mampu menegakkan batang padi basmati dan membuat rasa berasnya gurih pula.

Dengan konsep integrated farming, di lokasi ketahanan pangan terpadu di sekeliling Waduk Windu Kencana, Al-Zaytun akan menerapkan konsep mekanisasi pertanian. Untuk itu, lahan-lahan pertanian dibuat datar atau flet dan dalam petak-petak yang jauh lebih luas dari biasanya. Di lokasi ini, sejak menanam padi hingga memanen dikerjakan oleh mesin-mesin industri pertanian. Sentuhan tangan manusia diminimalkan. Produktifitas, efektivitas, dan efisiensi kerja adalah sasaran dari konsep mekanisasi pertanian Al-Zaytun ini.

Lokasi sekitar Waduk Windu Kencana juga akan didesain menjadi pusat pengembangan ternak sapi perah dan sapi potong. Ribuan sapi yang saat ini masih bermukim di sekitar kampus Al-Zaytun, semuanya akan pindah direlokasi sejauh 6,5 km ke pinggiran waduk. Di situ akan disiapkan kandang yang luas.

Al-Zaytun kelak akan menyisakan satu tempat saja untuk kandang sapi, terletak di lokasi yang ada saat ini di sekitar kampus, untuk keperluan praktikum mahasiswa.

Di lokasi perternakan baru, Al-Zaytun, akan mengalokasikan pula lahan khusus untuk menanam ruput makanan sapi. Setiap satu hektar lahan dibangun menjadi 35 bedeng, tiap satu bedeng dibagi menjadi tiga baris, satu barisan terdiri 0,5 meter, dan panjang tiap bedeng masing-masing 99 meter.

Itu berarti, sekali panen rumput tiap hektar lahan dari luasan 3 x 99 x 0,5 x 35 meter akan menghasilkan rumput. Jika tiap satu rumpun rumput beratnya 5 kg, dan harga pembelian rumput Rp 175/kg, per hektar lahan rumput akan dapat menghasilkan uang Rp 8 juta sekali panen, dalam waktu sekitar 65 hari. Selain rumput, tanaman lain yang bisa dikonsumsi sapi adalah kacang tanah dan jagung muda yang usia penennya sama 65 hari.

Susu Sapi

Susu sapi yang akan dihasilkan lahan pertanian terpadu Al-Zaytun tergolong mahal, sekitar Rp 3.500 per liter. Bandingkan dengan harga susu Selandia Baru, atau Australia yang hanya 20 sen dollar AS per liter. Tetapi susu sapi Amerika sudah sangat tinggi 34-35 sen dollar AS per liter.

Kehadiran organisasi baru Asosiasi Peternak Sapi Perah Indonesia (APSPI) per Februari 2007, disebutkan Syaykh pasti akan lebih mendongkrak lagi harga susu sapi milik anggota APSPI.

Sebab APSPI, bersama bupati di seluruh Indonesia, kelak bisa bersama-sama membuat program menyehatkan masyarakat khususnya siswa didik setiap sekolah untuk meminum susu setiap hari supaya kecerdasannya bertambah.

“Semua ini calon presiden. Anak-anak yang baru lahir pun calon Presiden, calon meteri. Karena itu harus kasih susu agar kebijakannya cepat menyatu dengan kita, “kata Syaykh, berpersan agar daerah diajak menjalankan program menyehatkan rakyat dengan meminum susu sapi.

Lokasi waduk sekaligus pula dapat berfungsi sebagai hutan tanaman industri, karena di sekitar lahan terdapat lokasi hutan tanaman industri milik PT. Perhutani. Fungsi wisata jelas akan menjadi primadona baru yang “wajib“ dikunjungi oleh setiap tamu yang berkunjung ke kampus Al-Zaytun, entah dengan menaiki perahu, speedboat, berenang atau berkendaraan motor.

Diapresiasi dengan kekaguman

Ketua Umum APSPI Masngut Imam Santoso memberikan apresiasinya yang mendalam perihal proyek Waduk Windu Kencana ini. Masngoet menyatakan kagum, sekaligus memiliki harapan besar sekali, kalau lokasi Waduk Windu Kencana akan pas dijadikan sebagai lokasi pertanian terpadu.

“Pemikiran dan harapan saya nani, di sini akan menajdi pusat integrated farming yang kita inginkan bersama. Sarjana-sarjana yang dikeluarkan di sini (Universitas Al-Zaytun, maksudnya) akan menjadi sarjana yang siap pakai. Kalau orang Jawa namanya jalwilinpat separatamat. Artinya, kelebihannya itu seperempat dari orang lain (yang) sudah selesai,“ kata Masngoet, tokoh peternakan sapi perah asal Blitar, Jawa Timur.

“Jadi, pemikiran dan harapan saya untuk masa depan ini, sebagai Ketua Asosiasi, di sini akan menajdi sentral produk pertanian khususnya yang kita geluti. Karena saya Ketua Asosiasi Peternak Sapi Perah Indonesia, susu akan bisa diproduksi lebih dan tidak hanya di dalam keperluan pondok pesantren saja, tetapi juga akan mencukupi kebutuhan luar. Itu harapan saya,“ kata Masngoet, yang didaulat berbicara di hadapan para operator alat berat, usai diresmikan penggunaannya.

Masngoet dengan terus terang mengatakan tidak menyangka lahan pertanian terpadu yang akan dikembangkan Al-Zaytun kecanggihannya akan sedemikian rupa. “Nyatanya di dalam pondok pesantren cukup luar biasa.“

Don P Utoyo, mantan pejabat pemerintah di bidang pembibitan, kini aktif sebagai konsultan peternakan yang juga turut didaulat berbicara, mengatakan kebanggaannya bisa menyaksikan secara bersama-sama AL-Zaytun menyatukan tekad untuk mengubah sesuatu yang tadinya kurang bermanfaat menjadi sesuatu yang besar manfaatnya.

Ia mengatakan lokasi pertanian, terpadu di lahan Waduk Windu Kencana tetap sekali untuk dijadikan sebagai pusat kegiatan agrobisnis. “Agrobisnis adalah kegiatan usaha yang dasarnya tanah dan iklim. Dalam batas-batas tertentu manusia berupaya untuk mengubah apa-apa yang semua tadinya sangat terbatas, ditingkatkan kemampuannya seizin ilahi. Dan Alhamdulillah, kita dibantu orang-orang, dibantu alat-alat, kita telha dibantu oleh sedikit atau banyak dana yang insya Allah akan memberikan manfaat, memberikan keuntungan bagi orang banyak,“ kata Don, yang hadir di Al-Zaytun didampingi istri.

Guru besar ilmu peternakan asal IPB Bogor, Prof. Dr. Ir. Palawaruka, karena kekagumannya yang luar biasa hanya dapat berkata singkat. Itupun dalam nada yang lirih nyaris disertai tetasan airmata haru. “Saya, biasanya, karena berada di perguruan tinggi, ada sesuatu yang saya lihat di sini. Mudah-mudahan ini bisa menhasilkan teori baru. Ya, kalau saya, hanya itu saja.“

Mimpikan Tirta Sangga Jaya

Air adalah karunia Ilahi. Karena itu jangan dibiarkan jauh-jauh mengalir ke laut sebelum sempat dimanfaatkan secara maksimal.

Pesan dalam lirik lagu Bengawan Solo yang dikisahkan oleh penciptanya Gesang Martohartono, Musim kemarau, tak seberapa airmu, Dimusim hujan turun, Air meluap sampai jauh.., itu bisa membuat air mubazir sebab tak sempat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Air harusnya lebih dahulu dibendung, jangan dilepas lagi ke laut.

Caranya, ya itu, membendungnya dalam waduk, lalu menyimpan atau mengalirkannya di sungai yang sudah diperdalam. Berbagai kajian teoritis soal pengendalian dan pemanfaat air sudah sering dibahas dan dibicarakan di forum-forum ilmiah, tetapi lebih sering ditumpuk saja sebagai dokumen keilmuan.

Tetapi Al-Zaytun dengan kemampuan yang dimilikinya berhasil mewujud-nyatakan dokumen keilmuan itu menjadi barang jadi. Praktiknya adalah realisasi Waduk Windu Kencana, yang akan dipersembahkan kepada bangsa menandai sewindu usia Al-Zaytun menyediakan pendidikan terpadu sistem satu pipa kepada bangsa.

Malahan Waduk Windu Kencana telah menginspirasi Syaykh AS Panji Gumilang, untuk memimpikan sebuah ide besar bagaimana mengendalikan air di sekitar wilayah ibukota negara dan sekitarnya.

Lebih dari sekedar pengendalian air, ide besar yang diberi nama Tirta Sangga Jaya, yang artinya kira-kira “air yang menyangga ibukota negara Jakarta Raya,“ bila terealisasikan akan merevolusi berbagai hal di negara ini.

Selain pengendalian banjirnya yang revolusioner, Tirta Sangga Jaya diperkirakan akan menciptakan solidaritas nasional dalam hal mendanai proyek besar bernilai hampir ratusan miliar dollar AS dengan urunan membeli obligasi ini.

Berbagai revolusi pun terjadi. Revolusi penyediaan lapangan kerja jutaan orang pekerja sekaligus dalam satu proyek raksasa. Revolusi penyediaan sarana transportasi darat dan air terpanjang (240 kilometer) dan terlebar (200 meter) di Indonesia.

Revolusi dalam menciptakan medan bisnis baru dalam koridor sabuk ekonomi sepanjang 240 kilometer. Revolusi sosial kemasyarakat baru, yang terbukti mampu menerima perubahan-perubahan sudut pandang jika perubahan itu disampaikan dengan baik dan terbuka.

Dan, ini yang terpenting, revolusi peningkatan pendapatan masyarakat karena terjadi pergerakan sektor riil yang luar biasa besar.

Di Indramayu sendiri, Waduk Windu Kencana diperkirakan akan segera merevolusi peta ekonomi warga seluruh wilayah Jawa Barat.
(Sumber :Lentera - Majalah Berita Indonesia – Edisi 36/2007)

Berita Terkait :
- Tirta Sangga Jaya, Nama Yang Bagus

Bacaan Selanjutnya!

Tuesday, April 10, 2007

Bangun Kerjasama Pendidikan Nonformal

Kampus Al-Zaytun dan Ditjen Depdiknas

Konsistensi dan tekad Al-Zaytun memajukan dunia pendidikan rupanya tiba pula hingga ke ruang kerja Ace Suryadi, Direktur Jenderal Pendidikan Nasional (Depdiknas). Ace Kagum melihat Kampus Al-Zaytun yang memilki segala kelengkapan sarana dan prasaran pendidikan, sarana ekonomi pendukung, berikut konsep sistem pendidikan satu pipa yang sudah diterapkan sejak SD, SMP, SMA, S-1, kelak S-2 hingga lulusan S-3 dalam usia relatif masih muda 26 tahun. Ace Suryadi menilai Al-Zaytun sebagai sebuah pusat pendidikan yang sangat luar biasa, bahkan sudah bisa disebut sesuai dengan standar internasional.

Untuk mengapresiasi AL-Zaytun sebagai sebuah aset berharga yang berkelas internasional, atas nama Ditjen PLS Depdiknas, Ace Suryadi sepakat dengan pimpinan sekaligus penanggung-jawab Al-Zaytun Syaykh AS Panji Gumilang untuk membangun sejumlah kerjasama di bidang pendidikan.

Ace Suryadi seorang doktor bidang ekonomi pendidikan, lulus dari sebuah perguruan tinggi ternama di Amerika Serikat, sudah dua kali mengunjungi Al-Zaytun dalam waktu yang berdekatan. Pertama, pada bulan Desember 2006, kedua 20 Januari 2007 demi untuk menyamakan persepsi tentang cara terbaik membangun kemajuan dunai pendidikan, khususnya pendidikan non formal di seluruh Indonesia.

Ibarat pucuk dicinta ulam tiba mulai tahun 2007 Al-Zaytun mulai aktif memberdayakan masyarakat sekitar. AL-Zaytun memberi masyarakat sekitar kesempatan untuk ikut kegiatan belajar-mengajar di sejumlah Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), yang secara khusus didirikan Al-Zaytun di berbagai tempat.

Melalui PKBM, Al-Zaytun menawarkan seluruh masyarakat sekitar, khususnya generasi muda yang belum menyandang ijazah Sekolah Dasar (SD), SMP, dan SMA untuk mengikuti program pendidikan kesetaraan Kelompok Belajar (Kejar) Paket A (setara SD), paket B (SMP), dan Paket C (SMA).

Sedangkan kepada generasi yang lebih tua diberikan kesempatan mengikuti program pendidikan keaksaraan, misalnya pemberantasan buta huruf, mengikuti pelatihan keterampilan bertani, dan melatih sistem komunikasi ICT.

Diharapkan, siapa saja orang tua yang belum bisa baca tulis, tetapi memilki anak yang bekerja di luar negeri sebagai TKI, semisal di Taiwan, Ara Saudi, Korea, Kuwait, atau Qatar, selulus dari PKBM tatkala menerima surat atau kiriman uang tentu ia sudah bisa membaca isi surat dari si buah hati sekaligus mengambil sendiri uang kirimannya dari bank.

Al-Zaytun bekerja-sama dengan Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah (Ditjen PLN), Departemen Pendidikan Nasional untuk mendidik masyarakat. Al-Zaytun yang memiliki kantor-kantor perwakilan dan kantor koordinator wali santri di seluruh provinsi, itu serta merta bisa dikerahkan untuk membangun gedung-gedung PKBM.

Setiap warga yang membutuhkan penyetaraan pendidikan, atau mengikuti pendidikan keaksaraan Kejar Peket A, B, dan C, dan sebagainya, pendidikan dipusatkan di PKBM. Al-Zaytun akan menyediakan tenga pengajar, materi ajar, kurikulum dan sebagainya bekerja-sama dengan Ditjen Pendidikan Luar Sekolah, Depdiknas.

Membangun Manusia Indonesia

Dari pola kerjasama ini Al-Zaytun dan Ditjen PLS akan sama-sama sangat menguntungkan. Berbagai program kerja Ditjen PLS turut dibantu dilaksanakan oleh pihak swasta dalam hal ini Al-Zaytun.

Kerjasama Al-Zaytun dan Ditjen PLS ditujukan untuk membangun manusia Indonesia, dengan cara meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI).

Sesuai dengan Sasaran Pembangunan Milenium (Millenium Development Goals), dan kesepakatan negara-negara anggota badan dunia Unesco yang ditanda-tangani di Dakar, Senegal tahun 2002 lalu, Human Development Index diukur dari tiga komponen indeks pembangunan.

Pertama, Indeks Kesehatan, yang diukur dari rata-rata usia harapan hidup; Kedua, Indeks Pendidikan, diukur dari dua aspek yaitu angka/ tingkat melek aksara orang dewasa, dan rata-rata lama pendidikan, dan ; Ketiga, Indeks Perekonomian, yang diukur dari pengeluaran per kapita (purchasing power parity).

Indeks Pendidikan merupakan salah satu komponen dalam penetapan HDI, dan tingkat keaksaraan orang dewasa merupakan komponen dalam penetapan HDI, dan tingkat keaksaraan orang dewasa merupakan komponen terpenting dari aspek pendidikan untuk dapat segera menaikkan HDI.

Pemberantasan Buta Aksara yang kini dikerja-samakan Ditjen PLS-Al-Zaytun terhdap penduduk usia dewasa (15 tahun ke atas), menurut Ace merupakan salah satu prioritas dalam pembangunan pendidikan. Pertimbangannya, salah-satunya cara meningkatkan HDI yang paling murah dan cepat adalah dengan menurunkan jumlah buta aksara secara signifikan. Tingkat keaksaraan penduduk suatu negara sangat mempengaruhi tingkat kesehatan, gizi, kematian ibu dan anak, kesejahteraan dan angkat harapan hidup.

Bahkan, menurut Ace, pendidikan merupakan hak azasi setiap warga. Oleh sebab itu penduduk yang masih buta aksara wajib dan diprioritaskan memperoleh layanan pendidikan. Buta aksara terkait dengan kebodohan, keterbelakangan, pengangguran dan ketidak-berdayaan, yang bermuara pada kondisi ekonomi penduduk penyandangnya manjadi kurang beruntung/miskin, dan rendahnya produktivitas.

Artinya, buta aksara dan kemiskinan merupakan dua dimensi yang tidak terpisahkan sehingga sangat perlu dilakukan program pemberantasan buta aksara secara terintegrasi dengan berbagai program lainnya.

Konsisten Mendidik

Kampus Al-Zaytun sejak berdiri sudah melaksanakan pendidikan tingkat Dasar, Menengah, dan Universitas, serta pelaksanaan Kelas Dewasa dalam Kejar Paket A, B, C, juga Universitas Terbuka.

Saat ini, jumlah siswa, mahasiswa, guru, karyawan yang tinggal dalam kampus tercatat sebanyak 10.579 orang. Sedangkan jumlah Mahasiswa UT yang tinggal di luar kampus sebanyak 5.203 orang. Mereka datang ke Kampus pada saat pelaksanaan tutorial khusus dan ujian semester.

Al-Zaytun yang sudah meluluskan siswa sejak tahun 2002 hingga 2006 output-nya mulai jenjang pendidikan tingkat Dasar, Menengah Pertama, dan Atas sudah mencapai 9.681 pelajar. Mereka terdiri dari pelajar lulusan SD 267 orang , lulusan SLTP 6.910 orang, lulusan SLTA 2.504 orang, dan lulusan Kelas Dewasa 415 orang.

Rencana terbaru membangun PKBM di berbagai lokasi di seluruh Indonesia, diharapkan AL-Zaytun berkontribusi besar menaikkan HDI Indonesia. Kehadiran Al-Zaytun di Indramayu yang memulakan operasional pendidikan sejak 1999, itu saja sudah mampu mengangkat kualitas pendidikan kabupaten ini dari paling bawah sebelumnya, naik ke perningkat ketujuh terbaik, sewilayah Provinsi Jawa Barat.

Al-Zaytun mengemban motto sebagai pusat pendidikan dan penegmbangan budaya toleransi dan pusat pengembangan budaya perdamaian.

Al-Zaytun konsisten memberikan pendidikan yang terbaik kepada seluruh civitas akademika. Bahkan, Al-Zaytun terpanggil pula untuk meningkatkan pendidikan para karyawan, guru-guru, hingga memberikan kesempatan kepada warga sekitar untuk mengecap pendidikan persamaan ijazah dengan menawarkan kegiatan Kelompok Belajar (Kejar) Paket A, Paket B dan Paket C. Kampus Al-Zaytun juga menjadi tempat melaksanakan kegiatan tutorial kuliah jarak-jauh bagi para mahasiswa Universitas Terbuka (UT).

Direktur Jenderal Pendidikan Luar Sekolah (PLS), Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), Ace Suryadi, memahami betul konsistensi dan tekad Al-Zaytun untuk memajukan dunia pendidikan. Karena kekaguman itulah Ace menyatakan berminat untuk bekerja-sama lebih dalam dengan AL-Zaytun.

Sebagai langkah Awal, Ace menghibahkan bantuan Blockgrant senilai Rp 300 juta untuk membangun beberapa gedung Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), terletak di wilayah Indramayu dan Sumedang dibawah binaan Al-Zaytun.

Tetapi Al-Zaytun rupanya akan melangkah jauh melampaui blockgrand yang diberikan Ace. Gedung-gedung PKBM direncanakan Syaykh akan dibangun di seluruh Indonesia, dengan biaya ditanggung sendiri, tinggal pelaksanaan pengajaran saja yang dikerjasamakan dengan PLS.

Ace melihat apa yang sudah dilakukan oleh Al-Zaytun terbukti adalah pengejawantahan dari program dan visi-misi Ditjen PLS yaitu pendidikan untuk semua. Karena kesesuaian visi itulah Ace berjanji masih akan bersedia menawarkan kerjasama yang lebih luas lagi, dan dengan jumlah blockgrand yang lebih besar demi mengejar ketertinggalan Indonesia dalam membangun manusia. Syaykh pun bersedia saja demi kemajuan pembangunan pendidikan Indonesia.


Ace yang diangkat menjadi Dirjen PLS sejak Mei 2005 tergolong sangat sukses memberantas buta aksara. Bila pada tahun 2004 jumlah buta aksara masih 15,4 juta jiwa, tahun 2005 turun menjadi 14,6 jiwam dan tahun 2006 turun lagi menjadi 13 juta jiwa. Mereka yang mengidap buta aksara tersebar di wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, NTB, NTT, dan Papua.

Pemberantasan buta aksara adalah kerja keras yang sedang digenjot Ace Suryadi. Dari jumlah pengidap buta akara yang 13 juta jiwa tadi Ace berencana memangkasnya hingga separuhnya pada tahun 2009, atau tersisa 7 juta jiwa saja. Dan jika program pemberantasan berjalan mulus, pata tahun 2015 ditargetkan jumlahnya sudah NOL persen.

Kesepakatan-kesepakatan yang dituangkan UNESCO tahun 2005 dan dalam millenium Development Goals itulah yang diadaptasi Ditjen PLS dengan melaksanakan enam program utama pendidikan nonformal. Yaitu melaksanakan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 tahun, Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skills), Pendidikan Keaksaraan dan Pendidikan Berkelanjutan, Pendidikan Berkeadilan Gender, dan Peningkatan Mutu Pendidikan.

Walau dalam nama dan tema yang berbeda-beda, keenam program sesungguhnya sudah secara konsisten dilaksanakan oleh AL-Zaytun. Bahkan ketika datang berkunjung untuk kedua kali ke Al-Zaytun, bersamaan dengan kedatangan Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla untuk merayakan Tahun Baru 1 Muharram 1428H di Masjid Rahmatan Lil’ Alamin pada 20 Januari 2007, Ace Suryadi tiba pada kesimpulan akhir.

Dalam berbagai hal, Al-Zaytun sudah memenuhi syarat untuk disebut standar internasional. Demikian pula dengan semua yang diujikan di ujian akhir sekolah sudah menggunakan standar internasional.

Keberadaan Al-Zaytun yang terletak di pelosok desa sesuai pula dengan nafar Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional yang mengamanatkan setiap kabupaten diharuskan memiliki minimal satu sekolah berstandar internasional baik itu SD, SMP, SMK, atau SMA.
(Sumber :Lentera - Majalah Berita Indonesia – Edisi 34/2007)
Bacaan Selanjutnya!