Thursday, April 05, 2007

Skema Investasi “Indonesia Kolam Susu“

Ketua Umum Asosiasi Peternak Sapi Perah Indonesia (APSPI), Haji Masngut Imam Santoso menyatakan para peternak sapi perah di seluruh Indonesia sangat ingin perpartisipasi dalam pembangunan bangsa Indonesia.

“Suatu saat nanti kita harus bisa menjadi tuan di negeri sendiri,“ kata Masngut, seorang peternak sapi yang belajar secara otodidak, asal Blitar, Jawa Barat. Masngut sangat ingin sekali bisa mengangkat harkat susu sapi segara Indonesia bersaing di tingkat internasional.

Masngut Imam Santoso memilki kehendak luhur untuk merealisasikan perbaikan tingkat konsumsi susu segar per kapita per tahun. Ia menyebut hal itu bukan pekerjaan mudah. Sebab, hingga hari ini Indonesia masih merupakan net importer susu. Impor bahan baku susu masih lebih besar dari ekspor produk susu.

Tetapi, bagaimanapun, upaya untuk mencapainya harus dimulai dari sekarang dengan cara paling mendasar, yaitu meningkatkan populasi sapi perah, melakukan pembibitan sendiri, serta meningkatkan produktivitas ternak melalui perbaikan manajemen pengelolaan dan seleksi bibit yang baik.

Peternakan sapi perah nasional harus dibangun secara sistematis dan berkelanjutan demi mencukupi kebutuhan susu dalam negeri yang terus meningkat.

Kata Masngut, wacana yang pernah dilontarkan oleh Menteri Pertanian untuk mewujudkan Indonesia sebagai kolam susu, menjadi detak jantung semangat optimisme APSPI untuk membangkitkan peternakan sapi perah nasional. Melalui Dirjen Peternakan, pencanangan swasembada daging, yang lalu diubah menjadi program kecukupan daging tahun 2010, kata Masngut perlu pula direspon positif oleh semua pemangku kepentingan peternakan sapi.

Demi mewujudkan Indonesia sebagai kolam susu dan kecukupan daging, Masngut meminta supaya disepakati bersama jangan dilakukan dengan mengandalkan impor bakalan ataupun impor daging.

Sebab, hal itu tak memberikan nilai tambah pada peternakan sapi dalam negeri. Malahan bisa membunuhnya.

Strategi Pengembangan

“Yang pasti kita harus memulai dari perbibitan dulu, baru produksi kemudian,“ ujar pendiri Santoso Farm, yang terletak di Blitar, Jawa Timur, ini.

Masngut mengatakan peternakan mempunyai andil yang cukup besar dalam pembangunan bangsa sebagai Penggerak Perekonomian Pedesaan ; Penyerap tenaga kerja; Penghasil Devisa Negara ; Menyehatkan dan mencerdaskan anak bangsa.

“Kami dari Asosiasi Peternak Sapi Perah Indonesia (APSPI) tentu ingin berpartisipasi dalam pembangunan bangsa Indonesia. Di suatu saat nanti kita harus bisa menjadi tuan rumah di dalam negeri sendiri,“ kata Msngut, ayng berbicara usai menyaksikan pelantikan pengurus lengkap APSPI Provinsi Jawa Barat. Kepengurusan yang beru terbentuk ini dipimpin oleh Syaykh AS Panji Gumilang sebagai Ketua Umum.

Masngut mengatakan hampir 90 persen peternakan sapi perah dimiliki oleh peternakan rakyat. Sisanya, hanya 10 persen yang diusahakan oleh peternakan berbadan usaha perusahaan terbatas.

Peternakan sapi rakyat dikelola secara tradisional. Rata-rata kepemilikian mereka hanya 3-5 ekor per peternak, dengan rata-rata tingkat produksi susu segara 5-10 liter per ekor/hari. Tak heran apabila produksi susu segar dalam negeri hanya mampu memasok 30 persen dari kebutuhan industri pengeolah susu (IPS). Sisa terbesarnya 70 persen diimpor dari berbagai negara.

Berdasarkan peta itu Masngut menyebutkan masih tersedia kesempatan yagn luar biasa besar bagi peternak sapi perah dalam negeri untuk menambah pasokan ke IPS. Belum lagi bila ingin mewujudkan peningkatan tingkat konsumsi susu menjdi 7,2 kologram per tahun per kapita.

“Para peternak sapi perah berharap di suatu hari nanti produksi susu dalam negeri bisa memenuhi kebutuhan bahan baku susu segar IPS sebesar 50 persen, atau bahkan 100 persen,“ kata Masngut optimis.

Masngut menyebut, sejumlah hal penting yang harus dilakukan peternak bila ingin maju. Yaitu, perbaikan manajemen untuk mendukung optimalnya produksi ternak; Meningkatkan populasi sapi perah dalam negeri dengan memulai dari usaha pembibitan sendiri; Memiliki standarisasi harga susu yang layak diterima peternak; Dan ada pengawasan kualitas konsentrat sapi perah yang beredar di pasaran.

Selama ini peningkatan populasi dengan melakukan pembibitan menghadapi kendalam biaya produksinya yang mahal, serta nilai investasinya tinggi tetapi keuntungan yang dihasilkan sangat sedikit.

Masngut menawarkan solusi, pemerintah harus segera mengeluarkan paket tersendiri untuk merangsang pihak swasta terjun ke bisnis pembibitan sapi perah.

Peternak tradisional, secara tidak langsung sesungguhnya sudah melakukan pembibitan namun belum terarah dan terprogram secara baik. “Kami dari Asosiasi Peternak Sapi seyakin-yakinnya, peternak sekaligus menjadi pembibit bila didukung dengan pemodalan maka program peningkatan populasi akan tercapai,“ kata Masngut.

Masngut mempunyai skema menjadikan “Indonesia Kolam Susu“. Yaitu, setiap pemerintah daerah yang wilayahnya potensial untuk pengembangan sapi perah (hingga pemerintah pusat), itu berkenan menyisihkan 1-2 persen dari APBD (APBN) nyauntuk diinvestasikan di pembibitan sapi perah. Apabila sebuah daerah mempunyai APBD Rp 8000 miliar, disisihkan 1,5 persen tau Rp 12 miliar saja untuk investasi pembibitan sapi perah, maka daerah itu akan bisa membeli sebanyak 1.000 ekor sapi induk senilai Rp 10 miliar (harga rata-rata sapi induk Rp 10 juta/ekor), dan Rp 2 juta untuk program riring. Apabila rata-rata harga pedet (anak sapi) Rp 1,5 juta maka akan dapat digunakan untuk membeli pedet sebanyak 1,333 ekor.

Pemerintah daerah bisa memilah investasinya separuh atau Rp 5 miliar untuk pengusaha pembibitan sapi perah, sisanya separuh lagi Rp 5 miliar untuk peternakan sapi perah rakyat.

Karena keuntungan bisnis pembibitan sapi perah tergolong sangat rendah. Masngut menyarankan peternak haya dikenakan bunga rendah, semisalnya 2-4 persen atau ambil maksimalnya 4 persen pertahun. Jangka waktu pengembalian ditetapkan lima tahun dengan grace periode dua tahun. Jadi peternak dapat memulai mengangsur pada tahun ketiga, keempat dan pata tahun kelima sudah terlunasi.

Peternak dapat menjual anak sapi pada tahun pertama untuk digunakan sebagai angsuran pada tahun ketiga, menjual anak tahun kedua untuk angsuran tahun ke empat, dan menjual anak tahun ke tiga untuk angsuran pada tahun kelima.

Masngut mengajukan sejumlah kriteria bagi pengusaha pembibitan yang berhak memperoleh kredit dimaksud. Yaitu, peternak harus sudah berpengalaman di bidang pembibitan sapi perah; Mempunyai kandang; memiliki lahan rumput; Memiliki ijin; dan Memilki jaminan. “Paket yang kami usulkan adalah 50-100 ekor sapi setiap pengusaha,“ kata Masngut.

Syarat berbeda diusulkannya bagi peternak sapi rakyat. Yaitu, memilki kemauan dan kemampuan; Memilki kandang; dan Memilki jaminan tetapi apabila tidak ada, bisa diwakili oleh kelompoknya masing-masing di mana satu kelompok peternak satu jaminan yang sesuai. Di sini paket yang diusulkan ke setiap peternak adalah 2-4 ekor sapi, atau bisa lebih sesuai kemampuan masing-masing peternak.

Untuk merangsang petani supaya bergairah beternak sapi perah, harga susu segar di tingkat peternak perlu dijaga pada tingkat harga ideal, berkisar antara Rp 1.900 – 2.150 per liter.

Dengan rangsangan harga, ini secara otomatis akan menyemangati peternak menambah kepemilikan sapinya. Demikian pula pihak-pihak lain bisa tergiur untuk turut beternak sapi perah.

“Harapan kami program ini dapat berjalan setiap tahun. Jadi setiap tahun pemerintah daerah mengeluarkan 1.000 ekor sapi. Bila program ini bisa berjalan dengan baik maka selama lima tahun yang akan datang pertambahan populasi cukup menggembirakan, dapat membantu pemerintah swasembada daging serta mewujudkan Indonesia sebagai kolam susu,“ kata Masngut.

Populasi Cepat Bertambah

Masngut Imam Santoso mengestimasi, dengan perbaikan manajemen secara keseluruhan ditargetkan pedet yang dilahirkan dengan selamat sampai dewasa dapat mencapai sebanyak 60 persen dari jumlah induk.

Untuk menunjang percepatan populasi sapi perah dianjurkan perkawinan dilakukan secara inseminasi buatan (IB), dengan keharusan menggunakan straw berjenis kelamin tertentu.

Dengan demikian pedet yang lahir berkelamin betina akan sebanyak 60 persen dari total angka kelahiran selamat (60 persen dari induk), dan yang berkelamin jantan 40 persen juga dari total angka kelahiran (60 persen dari induk).

Masngut mengestimasi laju pertambahan populasi sapi perah di setiap daerah sebagai berikut:

Pada tahun pertama jumlah induk 1.000 ekor, jumlah kelahiran pedet 600 ekor, jumlah pedet jantan 240 ekor, dan jumlah pedet betina 360 ekor.

Pada tahun kedua, jumlah induk 1.000 ekor, jumlah pejantan 240 ekor, jumlah dara 360 ekor, kelahiran pedet 600 ekor, pedet jantan 240, dan pedet betina 360 ekor.

Pada tahun ketiga, jumlah induk 1.360 ekor, pejantan 480 ekor, dara 360 ekor, kelahiran pedet 816 ekor, pedet jantan 326 ekor, dan pedet betina 490 ekor.

Pada tahun keempat, jumlah induk 1.720 ekor, jumlah pejantan 806 ekor, dara 490 ekor, kelahiran pedet 1.032 ekor, pedet jantan 530 ekor, dan pedet betina 619 ekor.

Pada tahun kelima, total jumlah induk sapi sudah mencapai 2.210 ekor, jumlah pejantan 1.219 ekor, jumlah dara 619 ekor, jumlah kelahiran pedet 1.326 ekor, jumlah pedet jantan 530 ekor, dan jumlah pedet betina 796 ekor.

Dari jumlah induk sapi tersebut, Masngut mengatakan bisa diperoleh produksi susu pada tahun pertama 3 juta liter, tahun kedua 3 juta liter, tahun ketiga 4.080 juta liter, tahun keempat 5.160 juta liter, dan tahun kelima 5.160 juta liter, dan tahun kelima 6.630 juta liter.

Kata Masngut, usulan asosiasi Peternak Sapi Perah Indonesia (APSPI) ini dapat menjadi bahan masukan bagi Departemen Pertanian untuk menentukan program pengembangan sapi perah di seluruh Indonesia.

“Dukungan dari semua pihak baik pemerintah, IPS, koperasi persusuan dan semua peternak sapi perah sangat dibutuhkan untuk mewujudkan keinginan luhur mewujudkan peternakan sapi perah yang tangguh dan berdaya saing,“ kata Masngut Imam Santoso.
(Sumber :Lentera - Majalah Berita Indonesia – Edisi 35/2007)

0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home